Catatan

image

Tentang

Aku mencintai wangi tanah basah selepas hujan, bumi dan isinya. Dalam bahasa Yunani, wangi tanah basah itu adalah Petrichor. Petra adalah batu dan ichor artinya darah para dewa. Karena alasan itu-lah, blog ini bernama "Petrichor".

"Petrichor" ditulis oleh Erwin Dwi Kristianto - atau panggil saja "wien". Blog ini berisi catatan perjalanan dan kontemplasi hasil dari perjalanan itu.


Pendidikan
Unika Soegijapranata

Magister Lingkungan dan Perkotaan

Universitas Jenderal Soedirman

Fakultas Hukum


Pekerjaan
2013 - sekarang, Perkumpulan HuMa Indonesia

Analisa Hukum dan Data

2008 - 2012, LBH Semarang

Pengabdi Bantuan Hukum


Keahlian
Analisa Hukum
Fasilitator
Pendaki Gunung
Blog
Tampilkan postingan dengan label Footage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Footage. Tampilkan semua postingan

Di sela Posangke Junju: Belajar dari Tau Taa Wana




"Bung Erwin, bangun, kita sudah sampai.” ujar Amran, Direktur Yayasan Merah Putih - Palu, sembari menepuk pundakku.
  
“Kita sampai mana, Bung?” sahutku sambil mengucek mata.
“Kita baru sampai Kota Luwuk, kita beristirahat dulu, besok kita melanjutkan perjalanan ke Morowali.” kata Amran sembari mengambil daypack hitamnya.
 
Aku-pun bergegas mengambil daypack-ku dari kabin belakang mobil berpenggerak 4x4 itu. Waktu menunjukkan pukul 02.00 WITA. Sementara, kami berangkat dari Kota Palu pukul 09.00 WITA. Itu artinya, kami sudah menempuh jalan darat trans Sulawesi Tengah selama 17 jam.

“Istirahat-lah Bung, besok Kita masih harus berkendaraan lagi selama delapan jam menuju  Taronggo.” kata Amran sembari menarik retsleting sleeping bag-nya.

***

Desa Taranggo berada di  Kecamatan Bungku Utara, Morowali Utara. Morowali Utara adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah. Morowali Utara merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Morowali yang disahkan dalam sidang paripurna DPR RI pada 12 April 2013.

Desa Taronggo berpenduduk 318 jiwa dan berada di kaki bukit Pegunungan Tokala. Desa ini merupakan salah satu dari belasan desa di kecamatan Bungku Utara yang dihajar banjir bandang dan tanah longsor pada tahun 2007. Saat itu, sejumlah warga di desa ini dinyatakan hilang akibat banjir bandang.

Rombongan telah sampai di Desa Taranggo. Dari sini, sudah tidak ada lagi jalan yang bisa dilalui oleh mobil. Bahkan oleh mobil berpenggerak 4x4 yang kami tumpangi. Kami harus berjalan kaki melintas sungai dan mendaki lereng bukit di Pegunungan Tokala. Kami memutuskan untuk bermalam di Desa ini, karena hari sudah beranjak senja. Gelap menunjukkan kuasanya.

“Ada berita buruk Bung, saya harus kembali ke Palu, Papa saya meninggal.”

“Bung Erwin terus saja melanjutkan perjalanan ke Pegunungan Tokala.”

Malam pun semakin sunyi.


***

Gerimis pagi itu. Kabut belum sepenuhnya hilang ketika kami berempat memulai tracking. Puncak-puncak bukit di Pegunungan Tokala tertutup awan hitam. Kami bergegas, karena khawatir hujan akan semakin deras. Jika hujan deras, maka debit air sungai Salato akan semakin besar. Tidak ada jembatan di sungai selebar hampir 100 meter itu. Kami harus menyeberangi Sungai Salato jika ingin menuju tempat tujuan kami. 

Beberapa jam sudah kami berjalan. Kami sudah melintasi Sungai Salato. Kebun-kebun coklat dan kelapa. Kami sudah mulai memasuki hutan dengan vegetasi yang heterogen. Di kejauhan sudah nampak posangke junju atau hutan alang-alang. Beberapa rumah beratap daun kelapa juga sudah terlihat dari kejauhan.

Itu artinya tujuan kami sudah dekat. Ya, tujuan kami adalah lipu-lipu di bukit-bukit Pegunungan Tokala. Lipu adalah unit sosial terkecil masyarakat Tau Taa Wana. Sebuah lipu biasanya terdiri dari beberapa rumah yang saling berdekatan.

Di Lipu viatiro, kami bermalam. Selain bermalam, Agus dan Murni, staf Yayasan Merah Putih mengajar abjad dan angka kepada beberapa anak-anak di Skola Lipu. Skola Lipu adalah pendidikan alternatif untuk Tau Taa Wana. 

***

Dalam beberapa literatur, Tau Taa Wana digolongkan dalam kelompok suku besar Koro Toraja. Leluhur mereka melakukan migrasi awal dari muara antara Kalaena dan Malili kemudian menyusuri Sungai Kalaena. Mereka lalu menuju bagian utara melewati barisan Pengunungan Tokolekaju hingga akhirnya sampai di bagian tenggara Danau Poso. 

 

Selanjutnya, mereka bergerak ke arah timur laut menyisir lereng Gunung Kadata menuju dataran Walati yang dialiri Sungai La, dan terus bergerak menyusuri Sungai Kuse sampai akhirnya tiba di daerah hulu Sungai Bau. Dari sini mereka terus bergerak bermigrasi ke arah Timur hingga akhirnya sampai di hulu Sungai Bongka, tepatnya di wilayah Kaju Marangka. Di wilayah Kaju Marangka ini, sebagian kelompok migran menetap dan berkembang menjadi kelompok etnik Tau Taa Wana. Dalam perkembangan selanjutnya, etnik Tau Taa Wana kemudian menyebar dan mengelompok menjadi empat suku sebagaimana disimpulkan oleh A.C. Kruyt.

Menurut Kruyt (1930), dari segi dialek bahasa, Tau Taa Wana terbagi menjadi empat suku, yaitu: Pertama, Suku Burangas, berasal dari Luwuk dan bermukim di Lijo, Parangisi, Wumanggabino, Uepakatu, dan Salubiro; Kedua, Suku Kasiala, berasal dari Tojo Pantai Teluk Tomini dan kemudian berdiam di Manyoe, Sea, serta sebagian di Wumanggabino, Uepakatu, dan Salubiro; Ketiga, Suku Posangke, berasal dari Poso dan berdiam di wilayah Kajupoli, Taronggo, Opo, Uemasi, Lemo dan Salubiro; Keempat, Suku Untunue, mendiami Ue Waju, Kajumarangka, Salubiro, dan Rompi.

Keempat dialek bahasa yang membagi etnik Tau Taa Wana menjadi empat suku tersebut, menurut Jane Monnig Atkinson adalah varian dialek dalam bahasa Pamona. Oleh karenanya, Atkinson menyimpulkan bahwa Tau Taa Wana merupakan sub-etnis dari kelompok etnolinguistik Pamona (Atkinson, 1992).

Secara etnografis, Tau (orang) Taa atau To Wana merupakan sub etnis dari kelompok etnolinguistik Pamona yang mendiami wilayah-wilayah sekitar sungai Bongka, Ulubongka, Bungku Utara dan Barong. Orang Wana memakai dialek Wana yang termasuk di dalam rumpun bahasa Pamona sebagai bahasa pergaulan sehari-hari. Dialek Wana juga disebut dialek Taa, sebuah varian dalam bahasa Pamona (Atkinson, 1992).

Secara linguistik, menurut Alvard (1999) orang Wana bertutur dalam bahasa Taa yaitu sebuah bahasa yang banyak digunakan disekitar kawasan pesisir dan dataran rendah di sekitar Cagar Alam Morowali. Orang Wana Posangke mendiami daerah dataran tinggi yang berlembah di sebelah barat Cagar Alam Morowali, yang lokasi mukimnya tersebar di sepanjang Sungai Salato, Sungai Sumi’i, Sungai Uwe Kiumo dan Uwe Waju. Sumber mata air sungai Salato berhulu di Gunung Tokala dan bermuara di sebelah barat (Teluk Tolo). 

 

Wilayah sebaran utama Tau Taa Wana, membentang dari bagian timur dan dan timur laut Cagar Alam Morowali (Kabupaten Morowali Utara) sampai di bagian barat Pegunungan Batui (Kabupaten Banggai) dan Pegunungan Balingara (Kabupaten Tojo Una-Una). Dalam wilayah-wilayah tersebut konsentrasi terbesar lipu Tau Taa Wana, berada di sekitar gunung Tokala, Ponggawa, Katopasa dan lumut.

***

Siang itu kami sampai di Lipu Salisarao. Beberapa orang sudah berkumpul di sebuah rumah. Mereka sudah duduk melingkar. Beberapa botol pongasih sudah tersedia. Lembaran daun jagung kering berisi sejumput tembakau juga mereka sajikan. Kami kemudian berbincang.

Seorang warga Lipu Salisarao mulai bercerita. Dia bercerita mengenai hutan. Baginya, hutan bagi orang Taa sangat vital. Ia berkaitan dengan bagaimana mereka hidup dan melanjutkan kehidupan. Bagi mereka, hutan adalah tempat hidup dan sumber kesejahteraan. 

“tanpa hutan, kami orang Taa mungkin akan kesulitan melanjutkan kehidupan.” 

“Kami mengambil getah damar dan rotan dari hutan.” 

“Kami juga membuka hutan dan berkebun.” ujar Indo Lako. 

Dalam aturan adat Tau Taa Wana, terdapat banyak pengaturan tentang hutan, termasuk larangan-larangan adat tentang hutan. Mereka memiliki ketakutan terhadap kemungkinan bisa terjadi kesalahan atau melanggar garis ketentuan adat, dalam praktik pembukaan ladang. Sehingga mereka memilih melakukannya secara bersama-sama, sebelum lahan siap dibagi.

Beberapa penamaan hutan lahan yang masih kental dan ditemui di Posangke junju (hutan alang-alang), pangale (hutan dengan kayu-kayu besar), pangale kapali (hutan larangan) ini biasanya karena ada pohon besar, pohon beringin, dan batuan besar, vaka nafu (bekas kebun), yopo mura (hutan muda), yopo masia (hutan muda), bonde (kebun-kebun kecil), nafu toto (padi tiga bulan). 

Warga Lipu Salisarao yang lain kemudian, menjabarkan beberapa contoh pembagian hutan lahan itu. Menurutnya Yopo adalah hutan bekas areal rotasi peladangan. Berisi kayu-kayu kecil yang terdiri dari beberapa tingkat waktu dan umur. Sebagai hutan bekas peladangan ia memiliki struktur yang dibedakan dari umur. Pertama, yopo masia adalah bekas ladang yang sudah berumur 5 - 15 tahun; Kedua, adalah yopo mangura, bekas peladangan yang berumur 1-3 tahun. Keberadaan umur dari Yopo adalah gambaran ukuran waktu setiap rotasi peladangan yang berlaku.

Kemudian ada pangale. Pangale adalah hutan lebat membentuk galeri tegakan yang umurnya sudah mencapai 30 tahun. Pangale ini adalah lahan bekas peladangan atau yopo yang telah tumbuh dan membentuk hutan primer. Ia akan lebat menjadi sebuah hutan yang memiliki fungsi sebagai tujuan rotasi selanjutnya dalam tahapan dan periode tertentu berdasarkan yang disepakati, dari jarak awal waktu membuka ladang.

Ada juga pangale kapali. Pangale kapali adalah hutan larangan yang tidak boleh mengambil apapun di dalamnya. Bahkan untuk mengambil daun bambu yang jatuh sekalipun itu dilarang. Lalu, tanah rajuyu adalah tanah yang dimliki secara bersama tidak ada larangan untuk diolah.

Dalam sistem pengaturan lahan orang Taa, tanah diwariskan pada seluruh penghuni isi bumi, tidak boleh dimiliki oleh hanya orang seorang. Yang dimiliki manusia adalah apa yang ditanam atau dia tumbuhkan di atas tanah. Kepercayaan ini menjadi bagian dari spiritual atau keyakinan leluhur orang Taa yang berlangsung dari generasi ke generasi. Kalau ada yang melanggar ketentuan adat ini, maka ia akan di kenai sanksi atau givu bilapersaya.


Kami kemudian menyampaikan informasi mengenai putusan MK 35, hutan adat dan UU Desa. Kami juga menyampaikan informasi mengenai Perda Morowali tentang Pengakuan dan Perlindungan Tau Taa Wana. Mereka antusias mendengar informasi tersebut.

***

Berbagai pembelajaran dari Tau Taa Wana sudah kami petik. Senyuman dan beberapa botol pongasih mengantarkan kami meninggalkan Lipu Salisarao. Kami bergegas menuruni perbukitan, karena ada agenda lain dengan Perkumpulan Bantaya di Bahotokong. Masyarakat Bahotokong sudah menunggu kami. Mereka akan mengajarkan kepada kami mengenai “nafas panjang” dalam melakukan reclaiming lahan Hak Guna Usaha [.]




Palu, 21 – 31 Mei 2014
* Artikel ini sudah dimuat di SINI

Matahari Terbit di Gunung Merapi


Akhirnya Kami bertiga berbalik arah, kembali menuruni punggungan yang dipenuhi rerumputan dan pepohonan. Jalur pilihan kita berujung pada tebing yang tidak mungkin dipanjat tanpa peralatan memadai.

Langit telah pekat, namun urung jua menemukan jalur. Kabut menebal menghalangi mata. Jarak pandang memendek. Sinar headlamp tidak banyak membantu. Tanda-tanda alam itu berusaha memberi pesan: berjalan malam 'tak akan membawa Kami ke mana-mana.

***

Kami bertiga adalah kawan sedari kuliah. Semasa kuliah, kesamaan hobby menyatukan Kami di HMPA Yudhistira. Adalah Ipung yang memiliki inisiatif untuk melakukan pendakian ke Gunung Merapi. Ia ingin mendaki sebelum melanjutkan kuliah di Boston.

Gayung bersambut oleh Darbe, seorang wartawan TV, yang diempui oleh politisi berjenggot lebat. Aku-pun tertarik karena ingin sejenak melupakan thesis yang tidak kunjung di-acc oleh dosen. Jadi-lah, sebuah tim pendaki "uzur" berkumpul.

***

Kalau kataku sih kita nge-camp dulu di sini.” usul Darbe.

Nyong, setuju. Tapi mending agak naik sedikit kali ya?"

"Golet tempat sing madan datar?” Ipung menimpali dengan logat Banyumasan.

"Hayuuuuuk aja." sahutku.

Sepakat, tidak satu-pun suara protes. Memang begitu-lah seharusnya ketika tersesat di gunung. Harus satu kepala. Tiap anggota tim harus rela meleburkan ego ke dalam satu suara bulat. Perdebatan hanya akan menghasilkan perselisihan.

Teringat kisah yang diceritakan oleh penjaga basecamp di Wekas - Gunung Merbabu. Konon, ada dua orang mendaki Gunung Merbabu, bertahun-tahun yang lalu. Mereka tersesat. Mereka berselisih pendapat mengenai jalur ketika tersesat. Seorang dari mereka memilih jalur kanan sementara yang lain bersikeras ke jalur kiri. Kata sepakat tak tercapai. Perselisihan meninggalkan kenangan yang sampai sekarang masih dapat disaksikan para pendaki Merbabu: prasasti memoriam.

Kami berjalan meniti punggungan patah yang memisahkan lembah dan punggungan. Punggungan terjal di sebelah kiri. Di sebelah kanan adalah lembah dalam juga lebar. Di lereng punggungan, tampak siluet pokok-pokok pohon.

Setelah menemukan tempat datar, Ipung mengeluarkan tenda dome dari carrier miliknya. Tidak membutuhkan waktu lama, “rumah” itu beres. Setelah peralatan masuk ke dalam tenda, Darbe lalu mengeluarkan trangia dari daypack-nya. 

“Win, kamu saya beri kehormatan bikin sayur sup.” ujar Darbe. 

“Biasa Win, aja klalen kopi ireng. kental, less sugar!” sahut Ipung.

Setelah itu saya menyibukkan diri memotong bawang merah, bawang putih, sayuran dan baso. Sementara Ipung memasak air untuk kopi. Malam itu Kami tidak memasak nasi, karena sudah membawa nasi dari Magelang.

Sudah mateng neh, keluarin piring.” ujarku seraya melihat panci trangia 27 yang kepayahan menampung sup berisi sayur dan baso.

***

Sekitar dua puluh empat jam yang lalu, Kami masih bisa makan malam di daerah pecinan - Magelang. Elva -yang juga anggota HMPA Yudhistira- dan suaminya, berbaik hati menyediakan tempat menginap di rumahnya. Mereka juga berbaik hati mengajak Kami menikmati malam di kota yang dikelilingi oleh gunung itu. Tidak cukup, esoknya, mereka mengantarkan Kami ke New Selo. titik Awal pendakian Gunung Merapi.


Desa Selo (1.560 mdpl)  termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Boyolali. Desa ini terletak dipelana Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Sesampainya di Desa Selo, calon pendaki dapat meneruskan perjalanan menuju basecamp di Dusun Plalangan.  

Setelah mendaftar di basecamp calon pendaki dapat menuju ke New Selo. Terdapat penanda besar berupa di sana. Alih-alih bertulis “Hollywod”, penanda itu bertuliskan “New Selo”.

*** 

“Kang Darbe, Win, Tangi! Kalian harus lihat ini!” teriak Ipung sambil mengguncang bahu kami.

Dengan mata terkantuk, Aku justru menarik menarik retsleting sleeping bag karena malas dan dingin. Seakan tidak peduli, Ipung justru membuka retsleting tenda dan membukanya lebar-lebar. Hawa dingin-pun masuk dengan bebas ke dalam tenda. Sambil membuka mata, Aku bersiap untuk meneriakkan makian ke Ipung. Namun… 

Dari dalam tenda Aku melihat langit gelap mulai berwarna orange. “Matahari terbit.” pikirku. Melupakan rasa malas dan dingin Aku bergegas keluar dari tenda. Di luar, Ipung sudah berteriak-teriak layaknya anak kecil mendapat mainan baru.


Ternyata flying camp Kami adalah sebuah tempat yang sempurna untuk melihat matahari terbit. Sekilas, tempat itu adalah punggungan selebar ± 6 meter. Samping kanan dan kiri punggungan itu adalah lembah yang dalam. Punggungan itu terus menanjak. Dari kejauhan nampak puncak Gunung Merapi. Sungguh, itu adalah matahari terbit terbaik yang pernah kusaksikan. Matahari terbit yang kunikmati karena tersesat [.]

Terbang Menembus Jantung Borneo


Aku sudah di Malinau selama beberapa hari. Seorang kontak yang diberikan oleh rekan kerjaku, berbaik hati menyediakan persinggahan. Beberapa hari itu kuhabiskan karena menunggu penerbangan ke jantung borneo.

Untuk mengusir bosan, malam itu Aku bermain game di ponsel. Sedang asyik menyusun strategi di permainan itu, tiba-tiba ponselku bergetar. Ada notifikasi twitter dari ‏@iqinSASAK. Akun itu me-twett: “Pdhl 25/2 @erwin70tba flight LongBawan via Malinau @tbpurba RT @kompascom: Helikopter TNI AD Hilang Kontak di Nunukan http://kom.ps/AFeVXh 

Tautan itu-pun kutuju. Isinya berita hilangnya helikopter di sekitar Taman Nasional Krayan-Mentarang karena cuaca buruk. Ponsel ku-scroll untuk membaca berita lebih utuh. Lalu meng-klik beberapa tautan terkait.

Hilang di sekitar Long Bawan!” batinku.

Sembari meletakkan ponsel, Aku mengambil carrier 35 liter yang tergeletak di lantai kayu ulin rumah itu. Kuambil tiket pesawat susi air dari side pocket-nya. Tiket tujuan Long Bawan.

***

Long Bawan adalah ibukota Kecamatan Krayan. Aksesbilitas dari dan menuju Kecamatan Krayan sangat terbatas. Satu–satunya akses ke Kecamatan Krayan dari kota–kota di Indonesia menggunakan transportasi udara. Ada dua maskapai yang melayani penerbangan dari Kota Malianau, Kota Nunukan dan Kota Tarakan ke Long Bawan, yaitu MAF dan Susi Air. Selain di Long Bawan, di beberapa desa lainnya juga terdapat lapangan terbang perintis. Sebelum ada jalan darat, akses dari dan menuju desa-desa di kecamatan Krayan adalah dengan menggunakan pesawat perintis.


Sementara, jika melalui Malaysia, Long Bawan bisa ditempuh dengan menggunakan transportasi darat. Ada tiga pintu masuk di perbatasan Malaysia dan Indonesia, yaitu: Long Midang, Long Layu dan Lembudud. Selain itu masih ada jalan–jalan “tikus” menuju ke Malaysia.

*** 

Pesawat kecil itu terbang di antara bukit-bukit. Lincah menghindar awan-awan. Dua pilot, bule itu seakan sudah hapal jalur Malinau menuju Long Bawan. Hapal jalur seperti tukang ojek langgananku, memintas jalan-jalan tikus untuk mengurai kemacetan Jakarta.

Pesawat terbang rendah. Aku bisa melihat riam-riam sungai yang terkenal ganas. Aku juga bisa melihat pokok-pokok pohon besar rimba borneo.

Sudah 30 menit, salah seorang pilot itu memberi informasi kepada penumpang. Kami harus mengencangkan sabuk pengaman karena akan mendarat. Aku –dan tiga penumpang lainnya– bergegas mengencangkan sabuk pengaman.


Dengan lugas, sang pilot berhasil mendaratkan pesawat kecil itu. Tiba-lah kami di Long Bawan. Bandara yang hanya terdiri dari satu bangunan kecil. Jangan berharap ada belalai gajah, menara air traffic controller atau sekedar gerai makanan cepat saji. Bahkan Aku bisa melihat sapi sedang memakan rumput di sekitar runway. Ah, apa jadinya jika sapi itu tadi nyelonong ke runway ketika pesawatku mendarat.

***

Aku mendapat tugas untuk melakukan penelitian tenurial Dayak Lundayeh. Untuk itu, Aku harus live in di Long Bawan selama satu bulan. Tawaran itu kuterima, karena Aku sudah membayangkan akan menjelahi jantung borneo! Hutan Kalimantan yang tersisa [.]




Kontak
Erwin
By Request
Nusantara