Catatan

image

Tentang

Aku mencintai wangi tanah basah selepas hujan, bumi dan isinya. Dalam bahasa Yunani, wangi tanah basah itu adalah Petrichor. Petra adalah batu dan ichor artinya darah para dewa. Karena alasan itu-lah, blog ini bernama "Petrichor".

"Petrichor" ditulis oleh Erwin Dwi Kristianto - atau panggil saja "wien". Blog ini berisi catatan perjalanan dan kontemplasi hasil dari perjalanan itu.


Pendidikan
Unika Soegijapranata

Magister Lingkungan dan Perkotaan

Universitas Jenderal Soedirman

Fakultas Hukum


Pekerjaan
2013 - sekarang, Perkumpulan HuMa Indonesia

Analisa Hukum dan Data

2008 - 2012, LBH Semarang

Pengabdi Bantuan Hukum


Keahlian
Analisa Hukum
Fasilitator
Pendaki Gunung
Blog
Tampilkan postingan dengan label Kontemplasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kontemplasi. Tampilkan semua postingan

Pulang


Anaphalis javanica di Alun-alun Suryakencana ternyata kembang dengan malu-malu bulan ini. Dalam rumpunnya hanya beberapa yang mekar. Sisanya mungkin luruh ke tanah Suryakencana. Aku sadar, ini bukan lembah kasih, tapi ia tetap mampu menciptakan getar puitis di dalam hati.

Suryakencana selalu mengantarkan nuansa syahdu kepada para pelintas. Ia sekaligus jeda, sebelum tubuh dipaksa bekerja kembali selama satu jam kedepan untuk menjejak puncak Gede.

Betapa menderitanya tubuh pelintas yang harus menyusuri jalur ini. Pada titik ini kaki seperti hantu. Berjalan sendiri. Lepas dari pikiran yang mengembara kemana-mana. Satu keinginan yang selalu terbersit, cepat-lah berakhir ayuanan langkah ini.


Dan ketika ayunan langkah ini berakhir di Puncak Gede, matahari telah meninggi. Desau angin bersiul di antara pokok-pokok Cantigi. Seketika rindu-pun luruh menebar. Tak ada keindahan dan situasi yang paling mendebarkan ketika rindu menggulung waktu. Saatnya pulang.

Pulang, ya pulang! Bagi sebagian orang kata pulang kadang membawa beban: waktu telah habis. Tapi tidak bagi para pelintas, bagiku. Di titik itu waktu ingin dihentikan. Agar tak ada lagi perjalanan, menyisir jalan, memintas kota demi kota, menjelajahi hutan dan gunung.

Pulang adalah impian. Impian yang akan mewujud ketika waktu terajut di ranjang jengki rumah kita. Terasa cinta mengalir pada secangkir teh tubruk melati, ketika si kecil merayap mengejar crawl ball dan ibunya menjaganya agar tidak jatuh di sisi ranjang.

Pada akhirnya, keluarga adalah oase, pelepas dahaga musafir yang tak tertanggungkan. Pulang adalah anugrah [.]

Cabut-lah kakiku!


"Sepi yang kurasakan."

Aku merasakan kesepian angin malam. Namun, aku masih berdiri tegak. Dan harus tetap berdiri sepanjang malam. Dihantam hawa dingin dan kepiluan. Semua itu hanya bisa kusimpan sendiri. Sendiri di tengah bentangan ladang subur.

Aku ingin berbicara dengan palawija-palawija yang tumbuh di ladang ini. Namun pokok-pokok palawija itu enggan menyapaku. Mereka tidak pernah membalas panggilanku. Bahkan, burung-burung malam yang berkeciap di langit-pun enggan berbicara atau sekadar hinggap di atas tubuhku. Aku terasing sendiri.

Pun saat matahari berkuasa. Aku tetap berdiri dengan kepiluan yang sama. Bahkan lebih. Kesepian itu meyatu bersama tatap mata penuh kebencian dari para petani yang mengolah tanah di sekitarku.

Ya, aku menyadari konsekuensi kelahiranku. Ingin kuceritakan  mula kelahiranku yang terkutuk ini. Agar pokok-pokok palawija, binatang-binatang malam dan para petani bisa memahami siapa yang melahirkan aku. Lebih dari itu, aku ingin mereka melenyapkanku! Mencabut kakiku dari tanah ini.
 
***

Awal mulanya adalah pada masa pendudukan Belanda. Adalah NV Rotterdamsche Culture Maschapij dan NV Maatschapij Satrian - berkedudukan di Roterdam dan Amstedam, yang mengklaim tanah ini. Seturut waktu, Ia berganti menjadi NV Sekecer pada 3 Juli 1956. Geger 65, 30 orang dari pemegang saham NV Sekecer dituduh terlibat pembunuhan para jenderal di ibu kota.

Ia kemudian menjadi PT Sumur Pitu. Sekira tahun 1972, dengan pembagian hasil dengan PT. Sumur Pitu, tanah ini telah dikelola dan ditanami tanaman musiman oleh warga.

Sekira 175 km dari tanah ini, PT Semen Indonesia sedang membangun pabrik semen di Desa Tegaldowo, Kabupaten Rembang. Mereka seolah tidak peduli, walau Kartini-kartini Rembang sudah ratusan hari menduduki rencana tapak pabrik. Rencana tapak pabrik itu berada di kawasan hutan.

PT Semen Indonesia merencanakan tukar guling berada dengan tanah ini. Tanah di desa surokonto wetan, kecamatan pageruyung, kabupaten kendal dengan luas + 125,53 ha.

Petani harus diusir! 26 orang petani dilaporkan ke Polres kendal. Deretan Pasal 94 jo 19 Undang-Undang nomor 18 tahun 2013  tentang pencegahan dan pemberantasan pengrusakan hutan menjadi penjerat.

Pada 29 Maret 2016, sekitar pukul 10.00 Wib sekitar 100 personil brimob dari Polres Kendal datang dan membuat satu tenda di lapangan Voley desa Surokonto Wetan. Mereka  juga membuat dua tenda di lokasi penanaman pohon dan memasangku.


Aku adalah plang bertuliskan: “KAWASAN HUTAN sesuai keputusan menteri kehutanan republik indonesia no sk 5k.643/menhut-II/2013 dan nomor : SK.3021/menhut VII/KUH/2015)”
***

"Aku ingin mereka melenyapkanku! Cabut-lah kakiku dari tanah ini" [.]




Merauke, MIFEE dan Malaria


Akhirnya, pesawat Garuda Indonesia mengudara di atas langit Cengkareng. Langit tengah malam itu sedikit gerimis, namun setelah pesawat mencapai ketinggian cruising-nya keadaan berubah menjadi cerah. Beberapa awan cirrocumulus yang tersebar di beberapa tempat.

Pesawat tujuan Merauke ini transit dua kali, di Makassar dan  Jayapura. Dua kali pula Aku dan seorang kawan meninggalkan pesawat sekedar untuk meluruskan kaki dan menikmati secangkir kopi panas. Berangkat dari Jakarta pukul 23.50 WIB, pesawat ini tiba keesokan harinya di Merauke pada pukul 9.20 Wita.

Menjelang turun, pesawat melayang di atas Sungai Maro. Dari ketingian, Merauke tampak rata. Sejenak kemudian pesawat menjejakkan rodanya di landasan. Pendaratan yang mulus. Ketika pesawat bergerak menuju apron, perasaanku bercampur aduk. Akhirnya sampai di Papua!

***

“Bung, mau ikut aku ke Merauke?”

“Di Merauke saja? Main-main ke pedalaman ga?”

“Iya di Merauke saja.”

“Ok.,
jawabku tanpa berpikir panjang.

***

Adalah seorang kawan yang mengajakku ke Merauke untuk sebuah urusan. Kantor tempat kawanku bekerja sedang melakukan sebuah riset di daerah tersebut.  Riset ingin melihat sebuah “terobosan” dari Jakarta, menjadikan Merauke lumbung pangan nasional.

Program ini awalnya digagas Johannes Gluba Gebze, Bupati Merauke saat itu. Niat dia, membangkitkan ekonomi masyarakat. Walau pengelolaan diserahkan ke swasta, tapi dikembangkan dengan model perkebunan. Basisnya pada beras, sagu, jagung, kedelai dan tebu, dengan skema Merauke Integrated Rice Estate (MIRE).

Usulan John disambut baik Jakarta, kran investasi dibuka. Tapi yang datang jutru banyak pemain sawit, investasi di bidang pangan kurang peminat. Untuk menampungnya, pada 2010 MIRE berubah menjadi Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE). Sawit masuk di dalamnya, sebagai sumber energi.

Aku-pun mulai melakukan penelusuran di Internet. Beragam jurnal kuunduh. Sesekali Aku juga membuka beberapa laman perjalanan. Beberapa laman itu bercerita tentang ganasnya nyamuk Anopheles di pedalamana Merauke.

Aku-pun mengirim pesan pendek: “Kita cuma di Kota Merauke kan?”

“Iya.” Sebuah balasan pesan pendek masuk ponselku.

Jadi, kita ga perlu minum pil kina?”

Ga usah-lah, lagian percuma, kan kita berangkat besok”


Dan itu adalah sebuah kesalahan.


***

Ini gila!”, teriakku.

Kawanku yang sedang menikmati kopinya kemudian menghampiriku.

Lihat deh data-data ini. Sampai dengan 2011, tercatat tidak kurang dari 40 perusahaan telah mendapat ijin lokasi dan ijin operasional dalam proyek MIFEE."

"Ia merampas tanah suku Marind-anim. Meskipun baru beberapa saja di antaranya yang telah beroperasi di lapangan, namun dampaknya telah muncul."

"Sebagai contoh, PT Selaras Inti Semesta, anak perusahaan kelompok Medco, di Zanegi dan Kaliki telah menghabiskan hutan di areal lebih dari 20.000 ha. Dampak yang paling mudah diindetifikasi adalah hilangnya tanaman sagu yang menjadi sumber pangan suku Marind-anim, yang masih meramu dan berburu (hunting and gathering). Keadaan tidak jauh berbeda dengan situasi di Onggari dan Domande. Di sana, PT Rajawali mengembangkan perkebunan tebu. Selain itu, pemukulan dan kekerasan terjadi terhadap masyarakat, perusahaan menggunakan aparat militer dan polisi untuk merepresi dan mengintimidasi masyarakat di kampung-kampung”, terangku.

"Kita harus ke lapangan untuk mendalami ini."

Kami-pun menyewa motor, menghubungi beberapa kontak untuk guide. Beberapa hari kami menjelajahi pedalaman Merauke. Terutama daerah Orang Marind.


Daerah orang Marind adalah daerah dataran rendah di tepi pantai yang terdiri dari bukit-bukit pasir. Pohon-pohon kelapa banyak tumbuh diatas bukit pasir itu. Di belakang bukit pasir terbentang daerah rawa-rawa dan pohon bakau. Di sana letak hutan-hutan sagu dan daerah perladangan dari penduduk. Semakin ke dalam, mulai muncul daerah sabana yang diselingi rawa-rawa.

Interaksi kami dengan penduduk semakin menyakinkan kami telah terjadi perampasan tanah di Merauke. Perusahaan-perusahaan yang menerima ijin lokasi dari pemerintah daerah untuk beroperasi, berhadapan langsung dengan marga-marga dalam suku Marind-anim, termasuk mengadakan negosiasi dan perjanjian pemakaian atau penyerahan tanah. Suku Marind-anim kemudian melakukan negosiasi dan perjanjian tanpa mendapat informasi yang cukup. Ia merupakan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip Free Prior and Informed Consent (FPIC).


***

Siang itu di sebuah dipan. Badanku terasa panas. Kawanku merasakan hal yang sama. Kami sepakat untuk ke rumah sakit. Vonis dokter: Malaria [.]



Jalan Panjang Kajang




Aku terjaga dari tidur. Perjalanan udara dari Jakarta – Makassar, berlanjut perjalanan darat ini membutku lelah. Jalanan gelap. Roda-roda kendaraan berputar melewati kota Bulukumba menuju daerah Tanete dengan kontur perjalanan berkelok dan naik turun.

Kemudian roda menikung menuju kawasan perkebunan karet. Entah desa apa namanya. Sepertinya kami memasuki daerah perkebunan Lonsum. Untuk memastikan, aku bertanya kepada kawan perjalanan aku.

“Kita di mana?”

Sudah masuk perkebunan Lonsum”, katanya.

Ah... Perkebunan karet. Pastilah mempunyai sejarah panjang.”, batinku.

***
Matahari belum meninggi ketika kami bersiap memasuki  wilayah Masyarakat Hukum Adat Kajang di Kabupaten Bulukumba.  Masyarakat Kajang merupakan salah satu komunitas adat di Kabupaten ini. Menurut kisah yang dituturkan oleh Amatoa dan sejumlah tokoh adat, sejak dahulu kala masyarakat Kajang hidup di wilayah Bulukumba dalam persekutuan sosial. Mereka menyebar di dalam “Sulapa Appa”.

Sulapa appa”,  adalah segi empat batas wilayah, yang melintasi  Batu nilamung, Batu Kincing, Tana Illi, Tukasi, Batu Lapisi, Bukia, Pallangisang, Tanuntung, Pulau Sembilan, Laha Laha, Tallu Limpoa dan Rarang Ejayya.

Batas-batas wilayah adat Kajang tersebut berada di tiga wilayah administratif pemerintahan  kecamatan, yaitu kecamatan Kajang (desa Tana Toa, desa Kajang kassi, dan desa Bonto Biraeng), kecamatan Bulukumpa (desa Jo’jolo dan desa Bonto Mangiring), dan kecamatan Ujung Loe (Desa Tammato).

Masyarakat Kajang memiliki sistem kepercayaan yang dilaksanakan secara turun temurun hingga sekarang. Sistem kepercayaan tersebut meliputi kepercayaan kepada adanya Tuhan (Tau Rie A’ra’na), kepercayaan kepada Pasang ri Kajang, kepercayaan kepada allo riboko (hari kemudian), dan kepercayaan kepada nasib.

Berdasarkan sistem kepercayaan itu-lah wilayah adat Kajang dikelola dan didayagunakan untuk kehidupan lintas generasi. Termasuk dalam menjaga hutannya.

Hanya ada satu cara mencapai wilayah ilalang embayya (dalam pagar) dari ipantarang embayya (luar pagar). Berjalan kaki tanpa menggunakan alas kaki. Aku mulai melangkahkan kaki sembari melihat deretan pohon-pohon besar, bernafas sedalam-dalamnya demi mendapatkan udara segar.

Waktu tempuh untuk sampai ke ilalang embayya, tidak lama. Memasuki ilalang embayya, kami melewati lorong panjang yang di kiri-kanannya berjejal batu-batu berlumut dan pepohonan bambu. Seolah-olah, kami sedang menerobos lorong menuju masa silam. Ada nuansa klasik yang tak bisa ditawar-tawar.

Ya, bagiku, tidak ada jalan lain menikmati Kajang, selain menghayati dalam-dalam nuansa klasik dan kuno yang mereka tawarkan.

Bisa jadi, romantisme seperti itulah yang menarikku untuk datang jauh-jauh dari Jakarta. Padahal, bagi masyarakat Kajang, hari itu adalah hari yang penting, hari itu sebuah tim dari kementrian sedang melakukan verifikasi. Verifikasi atas permohonan masyarakat Kajang untuk pengakuan hutan adatnya.

***

Menjadi penyaksi proses pengakuan hutan adat masyarakat hukum adat Kajang persis seperti melewati lorong dengan tembok-tembok batu kusam itu. Bedanya, kita tidak tahu seberapa panjang lorong itu dan ke mana ia berujung [.]


Santap Siang di Rumah Blandong Randublatung


Moggo kopi leletnya.”

Matur nuwun, Bu.” Aku mengucapkan terimakasih seraya menyalakan sebatang kretek.

Sembari meminumnya, Aku-pun mengajak Ibu itu berbincang. Sekedar mencairkan suasana

Randublatung masih jauh, Bu?

Wah, masih jauh Mas. Satu jam lagi kalau naik motor. Tapi kalau sudah malam seperti ini, tidak ada kendaraan lagi. Mas mau ke sana?

Iya Bu. Wah, kalau sudah tidak ada kendaraan, lalu bagaimana baiknya ya?

Mas tidur saja di Masjid itu, besok pagi baru cari kendaraan ke Randublatung.

Terimakasih Bu.”

Dan Aku-pun menghisap kretek semakin dalam.

***

Randubatung -desa yang menjadi tujuanku- merupakan daerah berkapur di Kabupaten Blora. Hutan-hutan jati mengelilingi penjuru wilayahnya. Wilayah ini adalah bagian dari Pegunungan karst Kendeng Utara. Kawasan karst ini membentang sepanjang garis pantura, meliputi Kabupaten Pati (bagian selatan), Grobogan (bagian utara), Rembang, Blora, Tuban, Bojonegoro (bagian utara) dan Lamongan (bagian barat).

Sumber gambar: di sini

Dari segi struktur tanah, daerah ini didominasi tanah kapur yang terbentuk dari proses panjang pelapukan batuan gamping. Tepatnya, jenis tanah di daerah ini adalah mediteran, yaitu campuran dari proses pelapukan batuan gamping dan batuan sedimen. Warna tanah jenis ini adalah kemerahan sampai coklat. Meski tanah mediteran kurang subur untuk pertanian, namun jenis ini amat cocok untuk tanaman-tanaman tertentu seperti palawija, tembakau, jambu mete dan, termasuk juga: pohon jati!

Sumber gambar: di sini

Pohon jati -tectona grandis sp. dalam istilah latin- tumbuh dengan ideal pada tanah yang mengandung banyak kapur dan fosfor, memiliki kadar keasaman rendah (basa), dan tidak banyak tergenang air. Semua syarat itu ditemukan dengan baik di Randublatung. 

Pohon jati tumbuh subur di Randublatung. Kondisi itu membuat (hampir) seluruh fragmen kehidupan di Randublatung tidak lepas dari Pohon Jati.

***

Mba Nik akan memasak sayur lodeh pagi itu. Mba Nik memulainya dengan memarut cikalan kelapa tua. Aku dan anak Mba Nik yang paling kecil juga kebagian tugas. Tugas kami: membersihkan panci dan mususi beras di belik pinggir sungai.

“Nang, tadi bapak berangkat jam berapa?” tanyaku di belik.

“Selepas sholat subuh Mas. Mas tadi masih tidur.”

“Bapak kemana?”

“Mblandong Mas. Mencari rencek kayu jati untuk masak.”

“Mblandong?”
batinku.

***

Masyarakat Blora memanfaatkan hutan secara leluasa dan berpindah-pindah sebelum kedatangan VOC di Jawa. Mereka dikenal sebagai orang Kalang yang keahliannya adalah menebang kayu. Masuknya VOC mulai membatasi akses orang-orang Kalang untuk memanfaatkan hutan. VOC ingin merebut penguasaan atas kayu hutan yang ada di Jawa -terutama jati- untuk membangun kapal-kapal perang dan angkutan hasil bumi ke Eropa.

VOC mempekerjakan orang Kalang sebagai buruh penebang kayu dengan upah rendah. Buruh penebang kayu dengan upah rendah disebut dengan blandong.


Namun, istilah blandong sudah mengalami perubahan. Dari makna “buruh penebang kayu” saat masa VOC menjadi “pencuri kayu” saat ini.

Sumber gambar: di sini

Makna blandong berubah, namun pola pengelolaan hutan jati masih dipertahankan dari masa VOC ke masa kini. Saat ini, hutan jati dikelola oleh Perhutani. Kawasan hutan jati yang dikelola oleh Perhutani seluas 49.118% wilayah Kabupaten Blora.

***

Tidak ada yang bisa aku lakukan ketika Mba Nik mulai menyalakan rencek di pawon memasak. Dapur adalah wilayah kekuasaannya. Aku-pun memutuskan untuk beranjak menemani dengan Mas Lik –suami Mba Nik– yang sudah pulang dari hutan. Belum sempat Aku menyapa, Mas Lik berucap.

Mas, orang kota enak ya?

Aku kaget mendengarnya. “Kenapa Mas?

Iya, kerjanya enak. Ndak khawatir ditembak."


"Mas tau? Tahun 1998, Perhutani nembak dua orang warga yang ngerencek di hutan. 

"Mereka dituduh Perhutani sebagai pencuri."
 

Siapa Mas?”, tanyaku.

Teman Saya Mas Darsit dan Rebo. Ndak cuma tahun itu, tahun 2000 Djani mati ditembak Polisi Hutan yang sedang melakukan operasi pengamanan hutan."


"Padahal Djani ndak nyuri kayu. Kesalahan dia, dia pergi ke sawah membawa cangkul.

Mas, makanan sudah siap!” teriak Mba Nik dari dapur, memotong obrolan kami.

***

Nasi panas sudah tersaji di wakul bambu yang sudah diberi alas daun jati. Nasi itu memiliki rasa dan aroma yang lebih nikmat karena dituangkan panas-panas di atas daun jati. Sayur lodeh tersaji di rantang blirik. Sambel trasi menjadi teman nasi dan sayur lodeh itu. 

Seluruh masakan yang kami santap siang hari itu dimasak dengan menggunakan rencek dari hutan. Rencek yang menurut Pehutani dicuri dari hutan jati oleh blandong Randublatung [.]

22 Januari 2009



Penanggalan berlari ke angka 22 Januari 2009. Seorang renta meringkuk tak berdaya di truk yang mengangkutnya ke Pati. Ia bersama delapan petani lainnya. Darah terus-menerus mengalir dari luka. Wajah keriputnya memar, nyaris bonyok. 

Segerombolan aparat berbaju coklat tak berusaha menolong, malah mempermainkannya bagai seonggok sampah bau yang pantas ditinju dan ditendang. Setiap saat gerombolan itu mengambil kesempatan untuk menonjok wajahnya. Sebelum berada di truk itu, Ia sudah disiksa. Ia dipukuli! Rekannya mengalami hal yang sama. Dilempari, diinjak-injak, dipukuli dan diseret ke truk.

***

Apa yang akan terjadi besok? Rasanya seperti merenungi anak sungai. Bermula pada mata air, menyalurkan rembesan air dari celah bukit kapur, menyusup di celah-celah bebatuan, dan membelah hutan jati, menuruni lereng, membentuk Sungai Juwana. Tiba-tiba sudah bermuara di Laut Utara Jawa. Tak terjangkau oleh perhitungan angka, juga waktu. Tak tergambarkan, tak tertangkap oleh insting-insting peradaban yang menghidupkan nalar. Begitulah saat badan tua ini dikurung dalam sel penjara.

Jangankan yang akan terjadi besok, yang akan terjadi detik berikutnya tak bisa diketahui. Pada detik-detik mendatang yang menimpali detak jantung dalam tarikan napas, adalah ketidaktahuan, kegamangan, dan ketidakpastian


Aku tidak tahu! Aku hanya berputar dan diputar oleh waktu. Begitu terbatasnya jangkauan, bukan hanya karena berada di dalam sel, tapi lebih-lebih karena dikurung dalam keterpencilan oleh kekuasaan tunggal. 

Apa yang akan terjadi besok?” 

Malam hening. Gelap. Tanpa kepastian. Tak terdengar suara gesekan batang-batang jati yang dimainkan angin di halaman.

Tiba-tiba terdengar gemerincing kunci beradu rantai. Pintu blok dibuka. Kupejamkan mata seperti orang tidur. Tapi aku mengintip dari celah kelopak mata. Tok… tok… tok… Suara derap sepatu. 

Makin mendekat. Berhenti. 

"Sel siapa yang dilongoknya?"

Kembali terdengar derap langkah. Mendekat. Makin mendekat seperti berjalan di lubang kupingku. Dia berdiri di depan pintu selku. Matanya menembus ke dalam sel. Aku menahan napas.

***
 
Setibanya di Pati, kembali tuduhan dan siksaan kesekian yang mereka terima. Dalam setiap sesi interogasi aparat berbaju coklat selalu meneriakkan pertanyaan yang sama:

Kamu merusak! Mengaku!

Kamu provokator kan?” 

Sebelum mulutnya terbuka, kaki dan bogem menghantamnya. Berdarah-darah sudah bukan peristiwa aneh. 

Ayo jawab!!

Delapan orang lainnya mengalami hal yang sama. Bahkan seorang pemuda tanggung diancam akan ditembak dengan menggunakan pistol.

***

Siapkan diri!” perintahnya.

Siapkan semua barang. Pindah!” suaranya, memancing kegelisahan.

Ke mana?

Tunggu saja.


Selama menunggu diberangkatkan, aku duduk tercenung, sepintas masih mengharapkan kedatangan dulur-dulur-ku. Aku gelisah. Khawatir dulur-dulur-ku tidak mengetahui kepindahanku.

Aku memanggil seorang pemuda tanggung. Jari-jariku terasa gatal. Namun aku tidak bisa menulis. Ada kekuatan yang bangkit dalam tubuhku. Aku seperti mendengar suara puisi. Aku mendengar suara sapaannya. Aku digetarkannya. Aku tidak butuh makan, tidak butuh minum. Aku hanya perlu pensil dan secarik kertas. Menyampaikan pesan:


Alesan aku nolak pabrik nang Sukolilo karena sawah aku mung kuwe walaupun mung sitik tapi iso kanggo ncukupi pangan keluarga aku nganti saiki. Aku ora setuju nek ono pabrik semen nang Sukolilo! mung gawe bencana! Pas kedadean 22 Januari 2009 aku seko sawah. Pas liwat aku dikongkon mandeg karo wargo: “Mbah, ora usah muleh ning kene wae ngenteni Pak Lurah teko rene” trus aku ra sido bali, pengin ngerti sing dikondho karo Pak Lurah. Pas waktu rame - rame aku ditangkep lan diantemi entek -entekan lan digowo neng truk polisi. Wektu aku disidik di Polres Pati aku yo diantemi karo ditekan..!! Kok sing salah ora dihukum malah sing ora nglakoni opo-opo dihukum. Wong wargo ora pengen adol sawah kok dipekso kon adol. Nek ora adol arep dikeruk. aku pengen adil seadil-adile…!”

Suara peluit terdengar melengking, menikam keheningan dan memutus komat-kamitku. Kami digiring ke truk yang siap mengantar ke ibukota Jawa Tengah [.]





Lereng karst, Agustus 2009


Di sela Posangke Junju: Belajar dari Tau Taa Wana




"Bung Erwin, bangun, kita sudah sampai.” ujar Amran, Direktur Yayasan Merah Putih - Palu, sembari menepuk pundakku.
  
“Kita sampai mana, Bung?” sahutku sambil mengucek mata.
“Kita baru sampai Kota Luwuk, kita beristirahat dulu, besok kita melanjutkan perjalanan ke Morowali.” kata Amran sembari mengambil daypack hitamnya.
 
Aku-pun bergegas mengambil daypack-ku dari kabin belakang mobil berpenggerak 4x4 itu. Waktu menunjukkan pukul 02.00 WITA. Sementara, kami berangkat dari Kota Palu pukul 09.00 WITA. Itu artinya, kami sudah menempuh jalan darat trans Sulawesi Tengah selama 17 jam.

“Istirahat-lah Bung, besok Kita masih harus berkendaraan lagi selama delapan jam menuju  Taronggo.” kata Amran sembari menarik retsleting sleeping bag-nya.

***

Desa Taranggo berada di  Kecamatan Bungku Utara, Morowali Utara. Morowali Utara adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah. Morowali Utara merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Morowali yang disahkan dalam sidang paripurna DPR RI pada 12 April 2013.

Desa Taronggo berpenduduk 318 jiwa dan berada di kaki bukit Pegunungan Tokala. Desa ini merupakan salah satu dari belasan desa di kecamatan Bungku Utara yang dihajar banjir bandang dan tanah longsor pada tahun 2007. Saat itu, sejumlah warga di desa ini dinyatakan hilang akibat banjir bandang.

Rombongan telah sampai di Desa Taranggo. Dari sini, sudah tidak ada lagi jalan yang bisa dilalui oleh mobil. Bahkan oleh mobil berpenggerak 4x4 yang kami tumpangi. Kami harus berjalan kaki melintas sungai dan mendaki lereng bukit di Pegunungan Tokala. Kami memutuskan untuk bermalam di Desa ini, karena hari sudah beranjak senja. Gelap menunjukkan kuasanya.

“Ada berita buruk Bung, saya harus kembali ke Palu, Papa saya meninggal.”

“Bung Erwin terus saja melanjutkan perjalanan ke Pegunungan Tokala.”

Malam pun semakin sunyi.


***

Gerimis pagi itu. Kabut belum sepenuhnya hilang ketika kami berempat memulai tracking. Puncak-puncak bukit di Pegunungan Tokala tertutup awan hitam. Kami bergegas, karena khawatir hujan akan semakin deras. Jika hujan deras, maka debit air sungai Salato akan semakin besar. Tidak ada jembatan di sungai selebar hampir 100 meter itu. Kami harus menyeberangi Sungai Salato jika ingin menuju tempat tujuan kami. 

Beberapa jam sudah kami berjalan. Kami sudah melintasi Sungai Salato. Kebun-kebun coklat dan kelapa. Kami sudah mulai memasuki hutan dengan vegetasi yang heterogen. Di kejauhan sudah nampak posangke junju atau hutan alang-alang. Beberapa rumah beratap daun kelapa juga sudah terlihat dari kejauhan.

Itu artinya tujuan kami sudah dekat. Ya, tujuan kami adalah lipu-lipu di bukit-bukit Pegunungan Tokala. Lipu adalah unit sosial terkecil masyarakat Tau Taa Wana. Sebuah lipu biasanya terdiri dari beberapa rumah yang saling berdekatan.

Di Lipu viatiro, kami bermalam. Selain bermalam, Agus dan Murni, staf Yayasan Merah Putih mengajar abjad dan angka kepada beberapa anak-anak di Skola Lipu. Skola Lipu adalah pendidikan alternatif untuk Tau Taa Wana. 

***

Dalam beberapa literatur, Tau Taa Wana digolongkan dalam kelompok suku besar Koro Toraja. Leluhur mereka melakukan migrasi awal dari muara antara Kalaena dan Malili kemudian menyusuri Sungai Kalaena. Mereka lalu menuju bagian utara melewati barisan Pengunungan Tokolekaju hingga akhirnya sampai di bagian tenggara Danau Poso. 

 

Selanjutnya, mereka bergerak ke arah timur laut menyisir lereng Gunung Kadata menuju dataran Walati yang dialiri Sungai La, dan terus bergerak menyusuri Sungai Kuse sampai akhirnya tiba di daerah hulu Sungai Bau. Dari sini mereka terus bergerak bermigrasi ke arah Timur hingga akhirnya sampai di hulu Sungai Bongka, tepatnya di wilayah Kaju Marangka. Di wilayah Kaju Marangka ini, sebagian kelompok migran menetap dan berkembang menjadi kelompok etnik Tau Taa Wana. Dalam perkembangan selanjutnya, etnik Tau Taa Wana kemudian menyebar dan mengelompok menjadi empat suku sebagaimana disimpulkan oleh A.C. Kruyt.

Menurut Kruyt (1930), dari segi dialek bahasa, Tau Taa Wana terbagi menjadi empat suku, yaitu: Pertama, Suku Burangas, berasal dari Luwuk dan bermukim di Lijo, Parangisi, Wumanggabino, Uepakatu, dan Salubiro; Kedua, Suku Kasiala, berasal dari Tojo Pantai Teluk Tomini dan kemudian berdiam di Manyoe, Sea, serta sebagian di Wumanggabino, Uepakatu, dan Salubiro; Ketiga, Suku Posangke, berasal dari Poso dan berdiam di wilayah Kajupoli, Taronggo, Opo, Uemasi, Lemo dan Salubiro; Keempat, Suku Untunue, mendiami Ue Waju, Kajumarangka, Salubiro, dan Rompi.

Keempat dialek bahasa yang membagi etnik Tau Taa Wana menjadi empat suku tersebut, menurut Jane Monnig Atkinson adalah varian dialek dalam bahasa Pamona. Oleh karenanya, Atkinson menyimpulkan bahwa Tau Taa Wana merupakan sub-etnis dari kelompok etnolinguistik Pamona (Atkinson, 1992).

Secara etnografis, Tau (orang) Taa atau To Wana merupakan sub etnis dari kelompok etnolinguistik Pamona yang mendiami wilayah-wilayah sekitar sungai Bongka, Ulubongka, Bungku Utara dan Barong. Orang Wana memakai dialek Wana yang termasuk di dalam rumpun bahasa Pamona sebagai bahasa pergaulan sehari-hari. Dialek Wana juga disebut dialek Taa, sebuah varian dalam bahasa Pamona (Atkinson, 1992).

Secara linguistik, menurut Alvard (1999) orang Wana bertutur dalam bahasa Taa yaitu sebuah bahasa yang banyak digunakan disekitar kawasan pesisir dan dataran rendah di sekitar Cagar Alam Morowali. Orang Wana Posangke mendiami daerah dataran tinggi yang berlembah di sebelah barat Cagar Alam Morowali, yang lokasi mukimnya tersebar di sepanjang Sungai Salato, Sungai Sumi’i, Sungai Uwe Kiumo dan Uwe Waju. Sumber mata air sungai Salato berhulu di Gunung Tokala dan bermuara di sebelah barat (Teluk Tolo). 

 

Wilayah sebaran utama Tau Taa Wana, membentang dari bagian timur dan dan timur laut Cagar Alam Morowali (Kabupaten Morowali Utara) sampai di bagian barat Pegunungan Batui (Kabupaten Banggai) dan Pegunungan Balingara (Kabupaten Tojo Una-Una). Dalam wilayah-wilayah tersebut konsentrasi terbesar lipu Tau Taa Wana, berada di sekitar gunung Tokala, Ponggawa, Katopasa dan lumut.

***

Siang itu kami sampai di Lipu Salisarao. Beberapa orang sudah berkumpul di sebuah rumah. Mereka sudah duduk melingkar. Beberapa botol pongasih sudah tersedia. Lembaran daun jagung kering berisi sejumput tembakau juga mereka sajikan. Kami kemudian berbincang.

Seorang warga Lipu Salisarao mulai bercerita. Dia bercerita mengenai hutan. Baginya, hutan bagi orang Taa sangat vital. Ia berkaitan dengan bagaimana mereka hidup dan melanjutkan kehidupan. Bagi mereka, hutan adalah tempat hidup dan sumber kesejahteraan. 

“tanpa hutan, kami orang Taa mungkin akan kesulitan melanjutkan kehidupan.” 

“Kami mengambil getah damar dan rotan dari hutan.” 

“Kami juga membuka hutan dan berkebun.” ujar Indo Lako. 

Dalam aturan adat Tau Taa Wana, terdapat banyak pengaturan tentang hutan, termasuk larangan-larangan adat tentang hutan. Mereka memiliki ketakutan terhadap kemungkinan bisa terjadi kesalahan atau melanggar garis ketentuan adat, dalam praktik pembukaan ladang. Sehingga mereka memilih melakukannya secara bersama-sama, sebelum lahan siap dibagi.

Beberapa penamaan hutan lahan yang masih kental dan ditemui di Posangke junju (hutan alang-alang), pangale (hutan dengan kayu-kayu besar), pangale kapali (hutan larangan) ini biasanya karena ada pohon besar, pohon beringin, dan batuan besar, vaka nafu (bekas kebun), yopo mura (hutan muda), yopo masia (hutan muda), bonde (kebun-kebun kecil), nafu toto (padi tiga bulan). 

Warga Lipu Salisarao yang lain kemudian, menjabarkan beberapa contoh pembagian hutan lahan itu. Menurutnya Yopo adalah hutan bekas areal rotasi peladangan. Berisi kayu-kayu kecil yang terdiri dari beberapa tingkat waktu dan umur. Sebagai hutan bekas peladangan ia memiliki struktur yang dibedakan dari umur. Pertama, yopo masia adalah bekas ladang yang sudah berumur 5 - 15 tahun; Kedua, adalah yopo mangura, bekas peladangan yang berumur 1-3 tahun. Keberadaan umur dari Yopo adalah gambaran ukuran waktu setiap rotasi peladangan yang berlaku.

Kemudian ada pangale. Pangale adalah hutan lebat membentuk galeri tegakan yang umurnya sudah mencapai 30 tahun. Pangale ini adalah lahan bekas peladangan atau yopo yang telah tumbuh dan membentuk hutan primer. Ia akan lebat menjadi sebuah hutan yang memiliki fungsi sebagai tujuan rotasi selanjutnya dalam tahapan dan periode tertentu berdasarkan yang disepakati, dari jarak awal waktu membuka ladang.

Ada juga pangale kapali. Pangale kapali adalah hutan larangan yang tidak boleh mengambil apapun di dalamnya. Bahkan untuk mengambil daun bambu yang jatuh sekalipun itu dilarang. Lalu, tanah rajuyu adalah tanah yang dimliki secara bersama tidak ada larangan untuk diolah.

Dalam sistem pengaturan lahan orang Taa, tanah diwariskan pada seluruh penghuni isi bumi, tidak boleh dimiliki oleh hanya orang seorang. Yang dimiliki manusia adalah apa yang ditanam atau dia tumbuhkan di atas tanah. Kepercayaan ini menjadi bagian dari spiritual atau keyakinan leluhur orang Taa yang berlangsung dari generasi ke generasi. Kalau ada yang melanggar ketentuan adat ini, maka ia akan di kenai sanksi atau givu bilapersaya.


Kami kemudian menyampaikan informasi mengenai putusan MK 35, hutan adat dan UU Desa. Kami juga menyampaikan informasi mengenai Perda Morowali tentang Pengakuan dan Perlindungan Tau Taa Wana. Mereka antusias mendengar informasi tersebut.

***

Berbagai pembelajaran dari Tau Taa Wana sudah kami petik. Senyuman dan beberapa botol pongasih mengantarkan kami meninggalkan Lipu Salisarao. Kami bergegas menuruni perbukitan, karena ada agenda lain dengan Perkumpulan Bantaya di Bahotokong. Masyarakat Bahotokong sudah menunggu kami. Mereka akan mengajarkan kepada kami mengenai “nafas panjang” dalam melakukan reclaiming lahan Hak Guna Usaha [.]




Palu, 21 – 31 Mei 2014
* Artikel ini sudah dimuat di SINI

Gunung Sundoro, Karena Setiap Lerengnya adalah Puncak




Desa Kledung, Wonosobo dini hari itu. Kabut sudah pekat saat tim menginjakkan kaki di sana. Tim terlambat berkumpul karena sebagian anggotanya kehabisan waktu di lintasan kereta Jakarta-Purwokerto. Untung-nya, anggota tim dari Purwokerto sabar menanti. Pun, dengan anggota tim dari Magelang yang sudah di Kledung. Kami akan mendaki Gunung Sundoro.

***

Alkisah, hidup-lah sepasang suami istri. Mereka adalah petani yang hidup selaras dengan ritme alam. Berbanding terbalik dengan kedua anak laki-lakinya. Kedua anaknya selalu bertengkar. Suatu ketika kesabaran sang ayah habis. Anak kedua terkena pukulan. Akibatnya bibirnya robek (sumbing).

Kisah itu diabadikan menjadi nama gunung: Si (ndoro) dan si (sumbing). Ndoro adalah julukan kepada seseorang karena sikap santun, bijaksana dan selalu melindungi.

Kisah versi lainnya, Gunung Sumbing dan Sundoro adalah pasangan suami istri. Gunung Sumbing adalah sosok laki-laki yang merupakan suami. Gunung Sundoro adalah sosok perempuan yang merupakan istri.

***

“Kang harga ojeknya Rp 15.000,00.” kata Adi.

“Tawar lagi Kang, lagipula kita berdelapan. Masa ga dapet potongan.” jawab Aby yang menunggu di base camp.

Saat ini base camp untuk para pendaki berada di Balai  Desa. Beda dengan kunjungan terakhir ke gunung ini, base camp masih berada di rumah penduduk. Pembeda lainnya, ada ojek motor dengan tarif Rp. 15.000,00. Tim kami beruntung bisa mendapat harga Rp 10.000,00. Ojek ini bisa mencapai batas peladangan. Menghemat satu hingga dua jam perjalanan trekking.

Jalur Kledung tidak memiliki sumber air. Umumnya pendaki akan membuat flying camp di pos tiga. Pos tiga bisa dicapai dengan waktu tempuh empat hingga lima jam.

Dari pos tiga hingga puncak masih membutuhkan waktu empat hingga lima jam lagi. Selepas pos tiga, susah ditemui shelter luas untuk membuat flying camp. Hanya ada shelter-shelter yang cukup untuk menampung satu hingga dua tenda. 

***

Pendakian Gunung Sundoro kali ini terasa kurang. Kawan seangkatan yang biasa mendaki bersama ‘tak ikut. Aku masih ingat, kala mendaki malam dengan Ranto dan Elva. Atau terkekeh melihat Ipung behenti di jalur. Mengira sekelebat plastik berkibar adalah penampakan. Atau kala mendaki via jalur Tambi bersama Fietta dan Ronald. Atau kala tersesat hingga beberapa punggungan bersama Topan.

Namun, kala ini masih ada beberapa kawan: Kiki, Siska, Deni dan Adi. Mereka tampak lebih lambat saat mendaki. Umur tidak bisa disembunyikan lagi. Dengkul dan engkel tak sekuat dulu.

Berbanding terbalik, ada Peche, Rio dan Sigit yang terlihat bertenaga. Selain mereka, Aby –seorang kawan yang bertemu di Gunung Pangrango- turut bergabung.

Pendakian, terutama bagiku, selalu penuh makna. Semacam memperbaharui janji pada kehidupan. Setiap pos pendakian adalah target awal. Tanjakan adalah ikhtiar mencapai target. Membuat target baru dan berusaha menggapainya.

Aku lebih suka berjalan di belakang. Berjalan sendiri. Melakukan dialog dengan batin. Refleksi apa yang sudah dilakukan. Apa target hidup selanjutnya.

Sesekali berhenti. Melatakkan ransel. Sejenak melepas lelah. Mengatur nafas. Lalu, melanjutkan perjalanan. Menemui kawan-kawan yang pasti menunggu di tiap pos. 

Ya, kawan-kawanku sepertinya sudah paham. Aku selalu ingin sendiri.  Jadi-lah kami sebuah tim yang berjalan lambat. Pelan tapi pasti. Lima menit jalan, setengah jam istirahat. Satu pegangan kita. Istirahat makan siang di pos tiga.

“Wooooi, lama banget jalannya.” kata Siska yang sudah menunggu di pos tiga.

“Menikmati pemandangan, lagian tadinya kukira sampai sini teh hangat sudah jadi.” jawab Adi.

“Enak aja!” sungut kiki.

Selepas pos tiga, kami memutuskan melanjutkan perjalanan sampai batas waktu 18.00. Jadi-lah flying camp di sebuah tempat sebelum pos empat.

 ***

“Kang Adi muncak?” tanyaku pagi itu sembari menikmati secangkir teh.

“Puncak bukanlah segalanya. Di manapun, bisa menjadi puncak.”, kata Adi. 

Terdengar klise. Tapi mau bagimana lagi. Kang Adi kan pendaki senior bro!

“Kiki?” lanjutku.

“hmmmmm...., sini aja kang. Cuma mau ganti DP path kok.” Kiki menjawab singkat.

 
***

Pagi itu, sebagian dari kami memutuskan untuk tinggal di flying camp. Tidak melanjutkan hingga puncak gunung. Bagi mereka, semua lereng bisa saja menjadi puncak. Sementara sebagian lainnya melanjutkan hingga puncak, mengibarkan panji organisasi.

Sundoro adalah klangenan.

Salam, suatu saat kami akan kembali (lagi) [.]

Enam Belas Orang Itu (bagian 2)


Ali Nugroho;
Desi Handayani;
Elva Kurnia Dewi;
Erslan Abdilah;
Erwin Dwi Kristianto;
Fietta Anggita;
Johanes Mario Handojo Moek;
Maryati;
Mochammad Umaryaji;
Purwadi Teguh;
Ranto Suprapto;
Riana Kusumawati;
Ronald Sianipar;
Taufan Syarief Abdilah;
Wahyu Retnaningtyas Utami;
Yudaning Tyassari;

Siapa-pun pasti akan bergetar bila ada di pantai selatan pagi itu. Mungkin karena dinginnya hempasan ombak yang menyapu sebatas dada. Mungkin juga, karena mendengar teriakan dari Kang Untung memanggil nama-nama itu.

disclaimer: ini adalah foto angkatan TP, bukan angkatan TBa

Barisan slayer merah sudah berbaris menghadap bendera merah putih dan bendera organisasi. Sepuluh meter di hadapannya berbaris enambelas siswa menggunakan slayer biru. Terlihat kulit-kulit pengguna slayer biru memerah, mengelupas, berganti dengan kulit yang baru, membentuk keropeng. Walaupun warna slayer berbeda, walaupun posisi kami berbeda, tapi kami menghormati panji yang sama: panji kebesaran organisasi.

Satu-persatu dari nama itu maju ke depan. Mencium panji kebesaran, melepas slayer biru dan kemudian mengencangkan ikatan slayer merah yang disematkan oleh Kang Untung. Ya, pagi itu, saat matahari masih belum tinggi, Kang Untung memimpin upacara yang dilakukan setahun sekali oleh oraganisasi. Upacara pelantikan anggota muda.

***

Dua puluh empat jam sebelumnya. Keenam belas orang itu sedang mendaki bukit karst Gombong. Berjalan menelusuri pepohonan jati menuju sebuah tebing. Kanopi pepohonan jati itu tidak cukup untuk melindungi lintasan yang kami lalui dari sengatan matahari yang mulai meninggi.

Dari kejauhan, nampak enam belas slayer berwarna merah sudah terpasang di tebing itu. Slayer merah adalah simbol keanggotaan di organisasi. Keenam belas orang itu harus mengambilnya. Membutuhkan waktu selama matahari bersinar untuk keenam belas orang itu berhasil mengambil slayer yang terpasang di tebing itu.

Kami sudah mendaki dan menuruni gunung. Menjelajahi hutan dan lembah. Kami sudah menelusuri pantai.  Dan seharian ini kami sudah mencumbui tebing. Pungkas? Ternyata belum.

***

“Nama yang kalian usulkan bombastis!” kata Mbak Tessi.

“Silakan ke bivak kalian, pikirkan lagi!” sambung Kang Untung singkat.

Sepuluh jam sebelumnya. Keenam belas orang itu duduk melingkar dengan wajah kuyu. Nama yang meraka usulkan sebagai nama angkatan ditolak. Penolakan –dan perut yang hanya terisi daging kelapa- membuat kami semakin kuyu.

Sunyi. Masing-masing dari kami larut dalam pikiran masing-masing.

“Bagaimana kalau namanya Tirta Bhaskara?” Ira, panggilan akrab Wahyu Retnaningtyas Utami memecah kesunyian.

“Tirta Bhaskara?” gumam kami.

“Apa artinya?” kata Ronald dan Desi serempak. Mereka berasal dari luar Jawa, sehingga –mungkin- tidak memahami artinya.

Dan, diskusi-pun berlanjut.

***

Empat belas tahun kemudian. Sepuluh hari menjelang 2 Mei 2015, hari kelahiran HMPA Yudhistira. Organisasi yang menyatukan keenambelas orang itu. Sontak ingatanku berputar ke sekian tahun lalu. Mengingat peristiwa di pantai selatan itu. Sampai hari ini, Aku meyakini, orang-orang yang dilahirkan di PDY kala itu akan –dan telah-  menjadi orang-orang yang tabah dan tangguh menghadapi berbagai persoalan.

Aku bangga sudah mengenal mereka. Bukan karena beberapa sudah menjadi ahli di kepakarannya. Bukan karena beberapa sudah menjadi pegawai terbaik di bidangnya. Bukan pula karena beberapa dari mereka sudah menempuh gelar magister. Bangga karena aku adalah bagian dari enam belas orang itu [.]





__________
Tulisan ini adalah bagian kedua. Ditulis untuk memperingati hari lahir HMPA Yudhistira.

Kontak
Erwin
By Request
Nusantara