Catatan

image

Tentang

Aku mencintai wangi tanah basah selepas hujan, bumi dan isinya. Dalam bahasa Yunani, wangi tanah basah itu adalah Petrichor. Petra adalah batu dan ichor artinya darah para dewa. Karena alasan itu-lah, blog ini bernama "Petrichor".

"Petrichor" ditulis oleh Erwin Dwi Kristianto - atau panggil saja "wien". Blog ini berisi catatan perjalanan dan kontemplasi hasil dari perjalanan itu.


Pendidikan
Unika Soegijapranata

Magister Lingkungan dan Perkotaan

Universitas Jenderal Soedirman

Fakultas Hukum


Pekerjaan
2013 - sekarang, Perkumpulan HuMa Indonesia

Analisa Hukum dan Data

2008 - 2012, LBH Semarang

Pengabdi Bantuan Hukum


Keahlian
Analisa Hukum
Fasilitator
Pendaki Gunung
Blog
Tampilkan postingan dengan label Outdoor Cooking. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Outdoor Cooking. Tampilkan semua postingan

Tortilla di Ranu Kumbolo



"Pisang niki pinten Bu?", tanyaku kepada seorang Ibu di Pasar Tumpang, Malang.

"Rong puluh ewu Mas, murah to?", jawab Ibu itu pelan.

"Kabeh podo regone?"

"Njih Mas."

Aku-pun memilih satu sisir pisang raja yang paling besar. Tidak mungkin mendapatkannya dengan harga Rp 20.000,00 di Pasar Minggu, Jakarta. Sempat terlintas di benakku, bagaimana cara membawanya. Tapi pikiran itu kupendam saja. Paket yang menyertakan pisang
-sependek ingatanku- bukan menjadi beban bawaanku. Ternyata itu salah.

***

Aku dan sebelas kawan melakukan pendakian ke Gunung Semeru, via Ranu Pani, Jawa Timur. Tidak ada alasan khusus, hanya sekedar refreshing. Beberapa minggu menjelang hari H, tim sudah mempersiapkan segala peralatan yang akan dibawa, termasuk paket logistik. Tim juga mulai membagi tanggung jawab. Aku memilih bertanggung jawab terhadap logistik.

Aku memilih tanggung jawab itu karena menyukai kegiatan memasak di gunung. Malahan, menurutku memasak di atas gunung sama asyiknya dengan pendakian gunung itu sendiri. Sudah tidak sabar menunggu moment-moment itu.

Aku seolah ditantang menyiapkan makanan pada udara yang dingin, dengan peralatan seadanya dan dalam kondisi tubuh lelah. Puas rasanya jika bisa menghadirkan masakan bergizi buat diri sendiri dan kawan. Bukan hanya sekedar mie instan. Menurutku, sudah sepantasnya tubuh ini mendapatkan kenikmatan rasa setelah seharian dipaksa untuk bekerja keras mendaki.

Salah satu menu yang kubuat adalah tortilla isi daging ham dengan saus cabai. Ada juga pilihan lain: tortilla isi pisang dengan saus madu dan/atau coklat. Pemilihan menu ini berdasarkan beberapa pertimbangan: kandungan kalori dan nutrisi, kemudahan dalam mengolah, lama perjalanan, kepraktisan pengemasan dan karekteristik Gunung Semeru. 

Untuk kandungan kalori dan nutrisi, makanan yang dikonsumsi sebaiknya tidak sekedar mengenyangkan. Sebaiknya justru menghindari makanan dengan kadar karbohidrat tinggi seperti nasi. Tubuh manusia membutuhkan waktu enam jam untuk mengolah nasi menjadi energi. Pilih-lah makanan dengan kadar protein tinggi. Tortilla beserta isinya adalah pilihan yang tepat.

***

Tim mulai melakukan packing ulang di Ranu Pani. Semua peralatan dan logistik sudah masuk. Kecuali pisang. Loh kok bisa!? Pisang tidak masuk. Aku tersadar, ternyata salah satu anggota tim yang seharusnya membawa pisang itu batal ikut pada H-1. Mau tidak mau aku harus membawa pisang itu. Pisang itu sungguh merusak kadar penampilan renselku. Arrrrrrgh!!!


Pagi itu di Ranu Kumbolo. Maka dimulai-lah “pesta” itu. Setelah menikmati secangkir teh, kami memulai menyiapkan sarapan. Dua Trangia disiapkan sekaligus. 


Cara membuatnya sangat mudah dan cepat. Pertama, panggang daging ham. Kedua, atur daging ham beserta bumbu di atas tortilla. Atur juga pisang, meses dan madu di atas tortila. Lalu gulung atau lipat. Ketiga, panaskan margarine di atas Trangia. Keempat, panggang hingga kecoklatan dan matang.  

Menu pagi itu sudah siap. Secangkir coklat susu menjadi teman sarapan pagi itu [.]


Rujak Buah ala Gunung Sundoro



Konon, rasa makanan lebih lezat dan nikmat ketika disajikan dengan bumbu fresh. Bumbu yang baru saja dihaluskan atau digerus. Lebih lezat dan nikmat dibandingkan menggunakan bumbu instan.

Konon, akan jauh lebih lezat dan nikmat lagi jika bumbu yang dihaluskan berasal dari cobek dan ulekan batu. Lebih lezat dan nikmat dibandingkan dengan cobek dari kayu atau semen.

Mungkin karena itu-lah, penjaja makanan -baik penjaja keliling maupun warung- memakai cobek dan ulekan batu. Mereka memilih menghaluskan bumbu secara langsung dalam kondisi fresh dibanding menggunakan blender atau gilingan.

Salah satu makanan populer yang tidak bisa lepas dari cobek dan ulekan  adalah rujak buah. Di beberapa tempat disebut dengan lotis. Gabungan dari berbagai macam buah-buah segar yang dipotong sesuai selera. Buah-buah itu dimakan dengan sambal gula pedas khas rujak buah.

***

“Coklat?”

“Pear?”

“Apel?”

“Nata de coco?”

“Puding untuk menu puncak?” usul Kiki.

“Maistream! Tiap naik gunung pasti makanan puncaknya itu. Bosan ah, ganti menu lainnya.” Jawab Siska.

“Bubur kacang hijau?” usul Adi.

“Enak siy, tapi santannya itu bikin ga seger.”

“Rujak buah?” jawabku.


Akhirnya menu puncak disepakati. Menu puncak kali ini adalah rujak buah. Peralatan untuk membuat rujak buah tentunya cobek dan ulekan. Karena percaya dengan omongan orang mengenai kelezatan bumbu yang dibuat dari cobek dan ulekan batu. Selain itu karena ingin iseng ke junior, Maka, cobek dan ulekan menjadi salah satu peralatan yang akan dibawa. Cobek dan ulekan batu tentunya.

Tabel menu-pun dan perlengkapan tersusun. Langsung di-share ke group WhatsApp.

“Kang, ini yakin mau bikin rujak buah?”

“Kang, ini kenapa ga pakai bumbu instan aja?"

“Kang cobeknya pakai cobek kayu aja ya?”

Hening. Tidak ada respon dari group WhatsApp atas pertanyaan itu.

“Kang, yang akan bawa cobek dan ulekan batu siapa?” tanya Rio.

“Kamu.”

“Kok Aku kang?” Rio mencoba protes.

“Ngerujak sambil minum teh yang diseduh di poci kayanya enak ya?” sahut Kiki.

Hening. Tidak ada respon dari group WhatsApp. Takut kebagian jatah membawa poci dan cangkir tanah liat.

***

Akhirnya rujak buah itu tidak menjadi menu puncak. Karena berbagai pertimbangan, rujak buah akan dibuat di flying camp, sesaat setelah kami menapaki puncak gunung.

Siang itu selepas muncak, kami berbagi kerja. Kiki mencuci buah dan mengirisnya kecil-kecil. Buah yang dibawa adalah buah-buah yang relatif keras sehingga tidak hancur ketika di-packing. Mangga muda, kedondong muda, nanas muda dan ketimun jepang.

Entah kenapa beberapa pendakian terakhir, kami suka dengan buah-buahan. Cemilan siang saat mendaki kemaren-pun adalah pisang segar. Menu selepas makan siang hari ini ada rujak buah. Dan ada kurma untuk cemilan saat turun nanti.

Siska yang sedang memasak menu makan siang, mendaulatkan Aku untuk membuat bumbu rujak. Dengan tersenyum, Aku meminta Rio untuk mengeluarkan cobek dan ulekan batu yang ada di tasnya. Dibalas senyum kecut, sekecut mangga muda yang diiris Kiki, Rio mengeluarkan cobek beserta ulekan batunya.

Tidak membutuhkan waktu banyak. Gula jawa, cabai merah, garam, dan satu potong kedondong selesai dihaluskan. Bumbu rujak buah selesai. Pun, dengan irisan aneka buah. Kami mulai menyantap irisan buah itu, sembari mencocolnya ke bumbu rujak. Langsung dari cobek batu.


Flying camp kami tidak jauh dari puncak. Banyak pendaki yang melewati tenda kami. Kami-pun selalu mengajak setiap pendaki yang lewat untuk mencicipi rujak buah ala Gunung Sundoro ini. Sebagian menolak, sebagian mampir ke tenda kami. Komentar mereka nyaris seragam: niat banget bawa cobek batu. Dan Rio akan menjawab dengan kesal:

“AKU YANG BAWA COBEK BATU ITU!” [.]


Menu Bule di Lereng Gunung Sundoro


“Kang, libur kecepit besok, jadi naik gunung?” Kiki mengirim pesan melalui aplikasi whatsApp. saat itu, Aku sedang istirahat siang di kantor.

“Jadi dong. Kemping ceria kan?” jawabku.

“Bikin itin Kang. Sekalian menu dan pembagian logistik.” lanjut Kiki.

“Oke, nanti malam ya. Kalau sudah santai.”

***

Salah satu keseruan mendaki gunung adalah mempersiapkan menu. Perlengkapan boleh ultralight, namun tidak dengan menunya. Perut ini rasanya belum cocok dijejali dengan oat.

Begini-lah kalau tiga orang yang doyan kemping ceria di gunung berkumpul. Hasil-nya kemping ceria di lereng gunung yang memiliki ketinggian 3.136 mdpl. Anggota tim lainnya harus mengikuti. Otoriter.

Pendakian ini kami mencoba menu: black pepper sausage with mashed potato and vegetable sauté.

“Menu bule.” komentar Siska.

“Makanan apa itu?” protes Adi.

"Kentang Neng, kentang karo sosis." jawab Kiki mulai dengan logat Bekasi campur Banyumasnya. Dia kerap memanggil Adi dengan Oneng. Semena-mena.

“Sudah-lah Di, perutmu kan tong sampah. Pasti masuk kan?” jawabku sembari tertawa.

***

Flying camp kami berada di sebuah tempat sebelum pos empat. Dua tenda saling berhadapan. Tidak ada pendaki lain yang mendirikan tenda di sekitar kami.

Semakin malam udara semakin dingin. Cuaca cerah. Langit penuh dengan taburan bintang. Sebagian kawan mulai larut dengan beragam aktifitas. Ada yang mengelar tripod untuk memotret milky way. Ada yang di luar tenda, ngopi sembari memandangi Gunung Sumbing. Sementara, sebagian mulai bersiap-siap memasak makan malam.

Di vestibule masing-masing tenda sudah tergelar matras. Di atas matras sudah tersedia: tepung kentang, sosis, buncis, wortel, jamur kancing, paprika merah, paprika hijau, bawang bombay dan saus lada hitam. Siska meyiapkan bumbu dan mengiris sayuran. Aku dan Kiki menyiapkan sosis. Sementara Adi melanjutkan memasak air di trangia.

Setelah air matang, trangia dipersiapkan untuk memasak. Adi dan Kiki saling membantu menggoreng sosis. Setelah semua sosis selesai di goreng, dua trangia dipersiapkan bersamaan. Satu untuk membuat saus lada hitam. Sementara trangia lainnya untuk membuat tumis sayuran. Sembari dua kompor memasak, mashed potato dibuat.


Kami menggunakan tepung kentang untuk mashed potato. Jadi, hanya menyeduhnya dengan air panas. Idealnya tepung kentang itu dicampur sedikit susu, garam dan potongan daun bawang. Tapi, Aku lupa.

Untuk makan malam ini, masing-masing kami mendapat jatah, tiga sendok besar mashed potatoes, dua buah sosis goreng dan saus lada hitam serta satu porsi tumis sayur. Menurutku, menu ini merupakan menu yang cocok untuk di gunung. Selain lezat, tentu saja kaya protein. Cocok sebagai sumber energi untuk summit attact esok.

***  

Secangkir teh hangat menjadi penutup makan malam. Rasanya asyik mendaki gunung seperti ini. Merasakan kemping ceria di alam, makan sampai kenyang. Tanpa takut gemuk karena akan terbakar juga kalorinya. Keseruan ini bisa terlaksana asalkan mempunyai kawan yang asyik dan tentu saja sama-sama suka masak dan makan [.]


Membuat Energy Bar untuk Mendaki Gunung Rakutak


Dahulu, Aku biasa memindahkan “dapur” ke vestibule tenda. Pernah, Ari nge-dumel sepanjang perjalanan mendaki Gunung Sundoro, karena membawa cobek. Iya, cobek. Alih-alih cobek kayu, melainkan cobek batu lengkap dengan ulegan-nya.

Jadi, niatnya kala itu mau membikin rujak buah di puncak Gunung Sundoro. Rujak buah! Bayangkan, selepas melewati kawasan ladang, summit attack ke puncak, lalu menikmati segarnya nanas muda, kedondong, mangga muda dan sambal gula merah pedas.

"iya enak, tapi berat kali bawa cobek!", Ari tersungut.

Cobek itu hanya satu kisah. Kisah lainnya adalah parutan dan kelapa. Parutan? Jadi, niatnya waktu itu akan membuat bubur kacang hijau. Sewaktu menu disusun, beberapa kawan sudah protes: "kenapa ga pakai santan instan aja?", kata mereka. "Ah, yang instan-instan mah ga enak.", jawabku singkat.

Kisah cobek dan parutan itu hanya dua dari beragam kisah memasak di gunung. Ia selalu jadi guyonan, bahkan setelah bertahun-tahun.

***

Lain dahulu, lain sekarang. Karena latah dan faktor tenaga yang kian merapuh, Aku akan mencoba ultralight backpacking ke Gunung Rakutak, tengah bulan ini. Gunung ini berada di Bandung Selatan. Hanya membutuhkan dua hari dan satu malam untuk mendakinya berdasarkan itinerary yang kususun.

Biasanya, mereka yang mencoba ultraligh backpacking, terlalu fokus di peralatan. Benar, peralatan yang tepat bisa menghemat berat. Tapi itu menjadi tidak berarti jika logistik yang dibawa masih model "kemping ceria". Konsekuensi lanjutan-nya adalah bahan bakar yang banyak. Belum lagi air untuk memasaknya. Jadi, selain peralatan, logistik sebisa mungkin tidak konvensional (lagi). 

Untuk itu, menu disusun. Menu untuk pendakian kali ini adalah: hari pertama, energy bar untuk siang dan sop dengan sayuran beku (biasa untuk pelengkap steak yang terdiri dari wortel, jagung manis, buncis) serta baso. Hari kedua, pancake coklat untuk pagi dan energy bar untuk siang hari.

Dengan menu itu, Aku tidak perlu memasak nasi (yang artinya menghemat air dan bahan bakar). Air yang dibawa hanya untuk minum dan sedikit untuk sop.

***

Makan siang hari kedua adalah energy bar. Energy bar ini dibuat di rumah. Energy bar adalah semacam snack yang mengandung energi tinggi. Jadi, cocok untuk aktifitas pendakian. Internet menyediakan cukup banyak resep snack ini sebagai referensi.
 
Berbagai resep itu coba dimodifikasi, sesuai dengan selera. Coklat, kurma dan mete adalah pilihanku. Selengkapnya, bahan-bahan yang diperlukan adalah: 300 gr kurma dipotong-potong; 280 gr mete mentah 75 gr; Bubuk kokoa; Garam secukupnya; Oatmeal secukupnya; Vanilli 2-3 sendok makan air dingin. 

Sementara, alat yang diperlukan hanya food processor (bisa diganti blender); Cetakan ukuran 11,5 x 4,5 inchi (29x12) dilapisi alumunium foil, dan microwave (bisa diganti oven).







Cara membuatnya sangat mudah. Pertama, membuat adonan. Campurkan kurma, mete, bubuk coklat dan garam ke dalam food processor. Campurkan dan olah sampai teksturnya hancur dan kasar (lebih enak masih kasar, sehingga terasa sewaktu digigit). Tambahkan oatmeal dan tambah vanilla, sedikit air dingin sekaligus sampai membentuk adonan lembab. Kedua, tuang adonan ke cetakan, tekan merata. Ketiga, masukkan ke dalam microwave selama 45 menit. Setelah 45 menit, angkat dan dinginkan selama sejam. 

Energy bar sudah siap. Nantinya, tinggal dipotong kecil dan dibungkus alumunium foil. Siap untuk bekal ke Gunung Rakutak. Cukup ringan dan praktis. Lebih dari itu, snack ini menyediakan kalori yang lebih dari cukup untuk kegiatan mendaki gunung [.]




Kontak
Erwin
By Request
Nusantara