Catatan

image

Tentang

Aku mencintai wangi tanah basah selepas hujan, bumi dan isinya. Dalam bahasa Yunani, wangi tanah basah itu adalah Petrichor. Petra adalah batu dan ichor artinya darah para dewa. Karena alasan itu-lah, blog ini bernama "Petrichor".

"Petrichor" ditulis oleh Erwin Dwi Kristianto - atau panggil saja "wien". Blog ini berisi catatan perjalanan dan kontemplasi hasil dari perjalanan itu.


Pendidikan
Unika Soegijapranata

Magister Lingkungan dan Perkotaan

Universitas Jenderal Soedirman

Fakultas Hukum


Pekerjaan
2013 - sekarang, Perkumpulan HuMa Indonesia

Analisa Hukum dan Data

2008 - 2012, LBH Semarang

Pengabdi Bantuan Hukum


Keahlian
Analisa Hukum
Fasilitator
Pendaki Gunung
Blog
Tampilkan postingan dengan label Outdoor Gear. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Outdoor Gear. Tampilkan semua postingan

List Perlengkapan



Berikut ini adalah daftar peralatan, ketika melakukan perjalanan alam bebas. Tentu saja akan ada penyesuaian tergantung kondisi alam dan estimasi waktu perjalanan. 

Navigasi. Kompas silva, Zip lock bag berisi: copy peta kontur, Lenovo K900 dengan aplikasi Maverick; 

Tas. Eiger Carrier Backpack 35L 1163 Wanderlust warna biru, Berhaus Men's Freeflow® 30 Rucksack warna merah

Dry Bag. Trash bag, Deuter Light Drypack 25 warna oranye; 

Tenda. Merapi Mountain Moonlight 1, flysheet warna hijau lime, alumunium pole warna hijau lime, Merapi Mountain footprint warna abu-abu; 

Alas tidur. Matras Cozmeed warna hitam, matras alumunium; 

Kantong tidur. SB polar Cozmeed warna hitam, Deuter Dreamlite 500 Regular warna hitam kombinasi abu-abu; 

Memasak dan makan. Korek api gas tokai, Trangia 27-6 UL warna abu-abu dan hitam, Trangia Fuel 0,5 ltr warna merah, Sea to summit x bowl warna hijau, gelas aluminium, Sea to summit delta insulmag warna abu-abu, sendok dan sumpit kayu; 

Penyimpanan air. Jerigen lipat 5 liter, Hydration Bladder Eiger 2 liter; 

Pisau. T Kardin TK 96 Knive warna gagang coklat tua, Trampotina 24" (hanya jika perlu menebas); 

Survival Kit. Zip lock bag berisi: emergency blanket, tali paracod 100 m, korek api cadangan, cermin kecil tidak ada merk, All Weather Wind Storm Whistle; 

Senter. Petzl Tikka Plus E47; 

Trekking pole's. Black Diamond distance FL warna silver; 

P3K. Zip lock bag berisi: obat merah, minyak gandapura, obat flu, norit, vitamin B komplek dan C;

Sanitasi. Deuter Wash Bag Zip lock bag berisi: sikat gigi, pasta gigi, pelembab, sabun dan shampo bekas hotel yang diisi ulang, cotton bud, gunting kuku, tissu gulung dan basah, Kanebo; 

Pakaian.
  • Raincoat. Cozmed Rc czmd R2421 atau jas hujan plastik (biasa dipakai oleh tukang becak);
  • Outer. -
  • Mid Layer. Kemeja flanel Uniqlo warna merah, Down Uniqlo warna hitam;
  • Base Layer. Berghaus Vapour Base Zip LS-AM warna merah;
  • Celana. Celana pendek kargo Uniqlo atau celana panjang kargo Alpina warna coklat krem;
  • Buff/syal. Berghaus warna merah dan syal HMPA Yudhistira warna hitam;
  • Penutup kepala. Topi Eiger warna hitam;
  • Alas kaki. Caterpillar safety boots warna hitam, Eiger S152 LI sandal jepit Swallow;




________________
Disclaimer:
  • Selalu berusaha membawa perlengkapan dan logistik seefisien mungkin.
  • Bukan posting berbayar. Merk dan/atau trademark yang ditulis diatas bukan promosi.
  • Peralatan yang disebut diatas dibeli menggunakan uang pribadi atau pemberian dari teman-teman. 

Berghaus Freeflow® 30 untuk Mendaki Gunung Semeru



Sekarang aku hanya bisa melakukan perjalanan di alam bebas selama satu sampai tiga hari operasional saja. Dulu, seminggu atau lebih perjalanan masih memungkinkan. Karena itu, aku hanya membutuhkan ransel berukuran kecil.

Berbagai merk lokal sudah pernah kucoba. Dari Alpina, Tengger hingga Eiger. Tas-tas itu sangat nyaman. Beberapa masih kusimpan di kontainer plastik. Sepertinya saatnya mencoba ransel merk luar.


Pilihanku jatuk ke Berghaus Men's Adjustable Freeflow® 30 Rucksack. Ukuran 68 cm x 31 cm x 29 cm, cukup untuk kebutuhanku. Sementara, beratnya adalah 1.40 kg, belum masuk kategori ultralight. Namun masih cukup ringan, menurutku.  Aku memilih warna merah, agar matching dengan slayer dan base layer yang kumiliki. Etdaaaaaah!

 
Nama ransel ini sudah menjelaskan segalanya. Berturut-turut, ransel ini dibuat oleh pemegang merk yaitu Berghaus. Men’s, kalau mau tetap dijelaskan, artinya pria. Adjustable, artinya tas ini bisa diatur torso-nya. Mulai dari torso yang panjang hingga yang pendek. Pilihan ukuran torso-nya terdiri dari XL, L, M, S dan XS. XS adalah ukuran torso-ku.

Lalu sesuai dengan namanya Freeflow®, sistem di bagian belakang tas ini benar-benar “free flow”. Sirkulasi aliran udara di punggung sangat bagus. Membuat punggung tidak basah oleh keringat. Tetap kering dan nyaman. Terakhir, 30 itu merujuk pada kapasitasnya, 30 liter.



Ransel ini langsung saya coba untuk mendaki di Gunung Sundoro dan Gunung Semeru. Percobaan pertama di Gunung Sundoro tidak cukup mengukur kemampuan ransel ini., karena peralatan pendakian kala itu dibawa oleh adek-adek angkatan yang unyu-unyu.

Ransel ini baru teruji pada pendakian kedua di Gunung Semeru. Pendakian Gunung Semeru membutuhkan waktu normal tiga hari dua malam. Ransel satu compartment ini berkapasitas utama 30 liter, sehingga cukup untuk menampung semua peralatan dan logistik selama waktu pendakian itu.


Di bagian samping terdapat mesh pocket yang memudahkan pengguna untuk menyimpan barang-barang yang sering copot pakai selama perjalanan. Di mesh pocket, saya menyimpan trekking pole's.

Pada bagian tutup ransel, seperti umumnya ransel lainnya, terdapat ruang penyimpanan. Dan di bagian dalamnya terdapat hidden pocket yang berguna untuk menyimpan uang, kartu identitas, ponsel dan benda berharga  lainnya.



Aku cukup berkesan dengan ransel ini selama pendakian di Gunung Semeru. Ukurannya cukup pas untuk menampung peralatan dan logistik (termasuk air lima liter) selama mendaki tiga hari dua malam. Ransel ini terasa nyaman ketika berada di punggung. Base layer yang kupakai tidak basah sama sekali oleh keringat karena teknologi free flow. Ini penting terutama ketika pendakian di gunung-gunung yang bersuhu relatif dingin, seperti Semeru.


Siapa bilang ransel ukuran 30 tidak cukup memuat peralatan dan logistik untuk mendaki Gunung Semeru? [.]



__________
Tulisan ini bukan posting berbayar.

Mengulas Pisau T Kardin Type TK 96




Pisau adalah teman untuk beraktifitas di alam bebas. Aku pernah menggunakan beberapa jenis dan merk pisau. Pisau-pisau yang dijual di toko peralatan mendaki gunung atau toko peralatan rumah tangga dengan kualitas yang kurang baik dan cepat rusak. Jika dikalkulasi, total dari pisau yang (akhirnya) rusak itu seharga satu pisau dengan kualitas baik.

Sejak itu, Aku mulai melakukan pencarian di internet mengenai pisau-pisau yang berkualitas baik, dengan harga yang masih masuk akal. Beberapa pisau langsung dicoret, karena harganya sudah tidak masuk akal.


Aku memilih menggunakan pisau buatan T. Kardin dengan tipe T 96. Bilah pisau ini adalah sepanjang 5 inch dengan bahan baja D2. Baja itu merupakan baja unggulan dengan kadar karbon tinggi dan khromium tinggi, kekerasan tinggi max 64 Hrc. Walaupun cukup tahan tapi masih belum bebas karat, tetapi bahan ini sangat digemari pemakai pisau karena kekerasannya tinggi sehingga ketajamannya awet dan mudah diasah bila tumpul. Komposisi Kimia adalah: C=1.55% ; Si=0.25% ; Mn=0.35% ; Cr=11.8% ; Mo=0.80% ; V=0.95%.

Sementara, gagang pisau ini terbuat dari kayu dengan panjang 3,5 inch. Berat total pisau ini adalah 200 Gr. Pisau ini dilengkapi sarung dengan kualitas yang baik. Sarung itu terbuat dari kulit.

Genggaman 


Gagang pisau yang terbuat dari kayu memberikan kesan sederhana. Aku mencoba menggengam pisau ini dengan berbagai cara. Dari berbagai cara menggenggam, pisau ini terasa nyaman. Rasanya pas sekali ditanganku yang kecil. Selain dari desain, bobot dari pisau ini juga memberikan keseimbangan yang baik. 

Memotong Kertas 


Pisau ini belum pernah untuk memotong dan diasah ulang sejak dibeli. Aku melakukan tes awal ketajaman dengan memotong kertas. Pisau ini bisa memotong kertas dengan cukup lancar, dibeberapa bagian kertas terlihat micro chiping.

Menyerut dan Mengupas Kayu


Selanjutnya Aku coba gunakan pisau untuk menyerut kayu. Konstruksi gagang pisau sangat nyaman untuk menyerut kayu. Setelah beberapa menit menyerat dan menyerut kayu, Aku tidak merasakan terasa pegal pada tangan. Menyerut dengan pisau ini terasa smooth. Aku sudah membayangkan menyerut kayu untuk dijadikan pematik api unggun.

Memotong kayu


Aku coba untuk memotong kayu dengan ukuran 5 x 1 cm. Aku memotong dengan teknik membuat tebasan melingkari kayu. Kurang lebih membutuhkan waktu 1,5 menit. Bobot pisau cukup berdampak memotong menjadi lebih mudah. Tidak membutuhkan banyak tenaga untuk mengayunkan pisau.

Membelah Kayu


Bilah pisau cukup mudah masuk ke dalam kayu ketika dihantam dari punggung pisau dengan kayu lain. Punggung pisau-pun tidak mengalami gompal/bengkok akibat benturan dari kayu.

Aku juga mencoba merenggankan belahan kayu dengan cara menarik dan mendorong pisau ke kanan dan kiri untuk melihat apakah pisau akan bengkok atau patah. Tidak ada tanda-tanda bengkok atau patah, kayunya justru semakin terbelah.

Dahulu untuk membelah kayu, ketika kayu sudah terbelah, Aku biasa menggunakan kayu lain dengan ukuran sebesar belahan lalu di pukul dari atas menggunakan kayu yang lain. Dengan pisau ini, Aku tidak ragu untuk langsung membelah kayu.

Melubangi Kayu 


Selanjutnya Aku coba untuk membuat lubang pada kayu. Caranya dengan meletakkan ujung pisau di atas kayu lalu diputar sambil ditekan. Bentuk ujung pisau dan sudut lekukan yang tidak terlalu lebar mendukung untuk melubangi kayu, sehingga tidak perlu waktu lama untuk membuat lubang pada kayu. 

Memotong Kertas (lagi)



Aku menggunakan pisau untuk memotong kertas (lagi), setelah selesai menyerut, mengupas, memotong dan melubangi kayu. Pisau masih bisa memotong kertas walau tidak selancar sebelum dipakai. Di beberapa bagian kertas terlihat micro chiping dengan lebih jelas. 

Simpulan 

Alih-alih sebagai "pajangan", pisau ini memang untuk “digunakan”. Tidak semua produsen pisau yang menggunakan baja D2 mampu mengolah D2 dengan memuaskan ketika digunakan. Pisau ini memiliki ketahanan dan kekuatan yang cukup baik serta nyaman.

Dari sisi harga pisau ini setimpal dengan kualitasnya. Aku akan menggunakan pisau ini di aktifitas alam bebas, khususnya mendaki gunung. Tentu saja, dengan bahan dari D2, Aku tidak akan menggunakan pisau ini ketika beraktifitas di rawa, pantai dan laut [.] 





__________
Tulisan ini bukan posting berbayar.

Terimakasih pada Black Diamond Distance FL




Setelah hanya makan mie instan selama sebulan. Setelah merelakan tidak tergoda menonton Dian Sasto atau Chelsea Islan, dll di bioskop. Akhirnya, Aku bisa membeli Black Diamond distance FL. Hari itu sebuah paket sampai di alamat tempatku bekerja. OB kemudian mengantarnya ke mejaku. Selepas mengucapkan terimakasih, Aku segera membuka paket itu.

Rekan kerja yang kebetulan satu ruangan melihat isi paket itu.  Ia lalu berkomentar.

"beli tongsis?"

"Sembarangan, trekking pole's kaliiiii"

Haaah! Kamu sudah seperti pendaki berumur aja! memakai trekking pole’s?” spontan temanku berkomentar ketika Aku menjelaskan isi paket kiriman hari itu.

***

Trekking pole’s memang bukan belum menjadi kebutuhan primer dalam sebuah perjalanan alam bebas. Alih-alih primer, sekunder-pun tidak. Padahal, trekking pole’s konon dapat mengurangi beban di lutut kaki hingga 30%. Nah, apakah modal utama perjalanan alam bebas? Kaki kan?

Selain itu, ada delapan manfaat trekking pole's versi sebuah laman yang ditulis oleh Hendri Agustin. Kedelapan manfaat itu adalah: Pertama, memberikan keseimbangan tambahan di jalur pendakian; Kedua, sebagai penopang saat tanjakan dan turunan; Ketiga, meningkatkan kecepatan; Keempat, mengurangi impak pada kaki, Kelima, membakar lebih banyak kalori; Keenam, mengurangi bobot yang dibawa; Ketujuh, mengatur pace; dan kedelapan, banyak digunakan pada kegiatan non hiking.

***

Aku memakai Black Diamond distance FL ukuran 95-110 cm. Pole’s ini hanya memiliki fleksibilitas hingga 15 cm untuk masing-masing ukurannya. Ada tiga ukuran berdasarkan ketinggian pemakainya. Jadi, perlu dengan cermat memilih ukutan yang tepat. 

Pole's ini mempunyai desain Z-pole. Desain Z-pole membuatnya dapat dilipat menjadi ukuran yang kompak. Pole’s ini packable. Aku tidak perlu menaruhnya di luar carrier, tapi bisa memasukkannya ke dalam carrier. Oya, sedari dulu, Aku tidak suka peralatan bergelantungan luar di carrier.


 

Di dalamnya terdapat kabel internal yang mengingatkanku pada cara kerja frame tenda. Kabel internal itu berlapis karet yang mengkerucut pada titik koneksi. Hanya dengan menarik bagian ujung atas hingga tombol terkunci, otomatis akan meluruskan dan menyambung ketiga bilahnya. Cepat dan mudah. 

Setelah tiga bilah itu lurus dan tersambung, selanjutnya adalah menyesuaikan panjang pole’s. Menggunakan teknologi FlickLock, Aku dapat menyesuaikan panjang dan mengunci dengan sederhana dan mudah.







Untuk bagian handle, menurutku sangat sederhana, namun tetap nyaman. Di ujungnya ada semacam tali. Ada keterangan L dan R di masing-masing pole's, sehingga tidak akan tertukar ketika memakainya.

***

Manfaat yang diperoleh dari trekking pole's ini lebih banyak dari kekurangannya. Lututku akan berterimakasih padanya [.]






__________
Tulisan ini bukan posting berbayar.


Caving di Gua Macan: Alasanku Mencintai Karst




Februari 2006, jam 15.00, sekre merah – HMPA Yudhistira masih sepi. Sekre merah itu berada di komplek UKM. Gedung perkuliahan fakultas hukum – Universitas Jenderal Soedirman berada di seberang komplek UKM, dibatasi oleh halaman parkir. Dari sekre merah itu, Aku memandangi jendela gedung perkuliahan lantai dua. Dari dalam jendela, Hamzah memberi kode: Ia masih kuliah beberapa saat lagi.

Aku dan Topan yang pertama datang di sekre itu. Berturut-turut datang-lah, Erick – si jangkung dengan tas slempang warna biru, lalu Cimot dan Adi dengan motor Vega hitamnya datang. Sambil menunggu Hamzah dan beberapa kawan lainnya, Kami mengecek dan menyiapkan peralatan.

Ponselku berbunyi. Sms dari Abdi mengkabarkan, Ia sudah berada di wall climbing yang berada di belakang perpustakaan Universitas Jenderal Soedirman. Aku mengetik pesan singkat: tunggu, sedang packing.

***

Dua utas tali kernmantel statis, masih-masing 20 meter disambung dengan simpul menjadi satu. Aku dan Erick lalu memanjat tangga di samping wall climbing. Sesampainya di top, Erick membuat simpul delapan dan menambatkan carabner scew oval di main anchor. Tak lama, Ia kemudian membuat back up anchor dengan memperhitungkan fall factor yang tepat. Untaian tali sudah terpasang. Siap sebagai tempat berlatih SRT.

Masing-masing dari Kami memakai dua utas webbing sebagai seat harness dan chest harness. Dua utas webbing itu disatukan dengan mailon rapide (MR). Di MR itu-lah berbagai peralatan lainnya berpusat, yaitu: croll dan auto stop descender. Selain itu, terpasang juga foot loop untuk pijakan kaki terhubung dengan jummar. Ada juga cows tail atau tali dinamik yang disimpul dengan salah satu talinya lebih pendek. Tali yang pendek digunakan terpasang carabiner sebagai tambatan pengaman.

Hari itu Kami berlatih naik dan turun dengan teknik SRT. Secara khusus Kami berlatih berpindah sambungan tali, berlatih berpindah lintasan tali dan melatih kecepatan. 5-10 menit adalah target waktu untuk masih-masing dari Kami untuk naik maupun turun. Hari itu, Kami belum mampu melampaui target tersebut.

***

Maret 2006, jam 07.00, Gua Macan-Gombong. Aku menambatkan jummar pada tali kermantle, dan memindahkan carabiner di cows tail dari webbing pengaman ke loop main anchor. Lalu, Aku mulai memasukkan tali kernmantle ke dalam auto stop descender. Selepas itu, Aku membuat simpul untuk menguncinya, mencegah tidak langsung merosot ketika -nanti- melepas cows tail.

Pelan-pelan Aku mencoba membebani lintasan. Setelah dirasa cukup kuat, satu per satu pengaman yang masih terikat dilepas. Diawali dengan jummar, cows tail, kemudian terakhir simpul pengunci pada auto stop descender. Beban tubuh kini berpindah sepenuhnya pada auto stop descender.

Pfuuuuuih!!!” teriakku sambil tetap memegang tuas auto stop descender.

Keringat hampir sepenuhnya membasahi coverall merah yang kupakai. Alih-alih karena gerah, keringat itu justru karena kegugupan mendominasi perasaanku saat itu.

Rick, liatin talinya, friksi ga?!!!” teriakku pada Erick yang menjadi second mand dan membantuku rigging.

Aman Win.” jawab Erick lugas.

“Oke, Aku turun.”
ucapku sambil mulai kuturuni lintasan slap menuju bibir tebing. Kemudian, mulai kutekan tuas desecender itu.

Diiringi suara deras aliran sungai bawah tanah di dasar gua, perjalanan dimulai. Kegelapan abadi telah menungguku di bawah sana. Cahaya tidak mampu mencapai dasar gua. Perlahan dan pasti tubuhku bergerak ke bawah. Sedikit ada hentakan, mulai kuatur ritme turunku. Setiap detik terasa begitu lama. Ketakutan yang 'tak beralasan mulai menyapaku.

Setelah sekitar 20 meter melewati lintasan, auto stop descender mulai panas karena bergesekan dengan tali. Setelah 20 meter juga, Aku menemui sambungan tali. Dengan bantuan jumar, croll, dan foot loop, cepat saja kulewati dua buah simpul penyambung itu.

Kutarik nafas panjang, mencoba menghilangkan rasa ketakutanku. Aku melihat sekeliling, gelap. Kutengok ke bawah, tidak tampak apa pun. Kemudian, kutengadahkan kepala ke atas, hanya terlihat seutas tali. Seutas kernmantle putih berdiameter 10.5 mm tempatku bergantung saat itu. 

***

Disambut dengan derasnya bunyi aliran sungai bawah gua ini, sejurus kemudian kakiku akhirnya menapak dasar gua. Berturut-turun Hamzah, Erick, dan Cimot sampai di dasar gua. Masing-masing dari Kami membutuhkan waktu 5-10 menit untuk menuruni lintasan tali. Tidak percuma Kami berlatih selama hampir sebulan. Adi –sebagai anggota termuda- ternyata tidak memiliki cukup keberanian, dan merelakan untuk menjaga anchor.

Sejenak, keempat dari Kami terdiam dalam gelap. Derasnya aliran sungai membuat suasana mencekam. Kami kemudian menyalakan head lamp dan boom (generator carbide). Alat ini berupa tabung yang dihubungkan dengan sebuah slang ke helm. Terdiri dari dua bagian, tabung alas berguna untuk menampung air, yang dilengkapi dengan regulator saluran gas dan lubang tempat pengisian air. Tabung bawah digunakan untuk mengisi karbit.

Aliran sungai itu ternyata berujung pada sebuah air terjun. Sebuah danau seluas ½ lapangan sepakbola terbentang. Dari ujung danau nampak sebuah lubang sempit. Air mengalir lagi dari danau membentuk aliran sungai bawah tanah yang panjang. Kami menelusuri aliran sungai itu.

Untukku ini adalah pengalaman pertama menelusuri gua. Kami memilih untuk menelusuri Gua Macan. Gua macan terletak di 109024’BT - 07 041’LS, secara administratif, gua macan terletak di  Dusun Karang Gondang/Teba, Candirenggo, Ayah, Kebumen.


Penelusuran pertamaku ini membuat mataku seakan dibukakan kenyataan bahwa di dalam pegunungan karst tersimpan kekayaan alam berupa air! Air melimpah di kedalaman bumi itu semacam anomali dari permukaan pegunungan karst yang kering.

***

Kami beristirahat di basecamp gua petruk – bukan di gua macan. Erick masih kesal ke Hamzah karena lupa mengganti film kamera sakunya. Akibatnya, tidak ada cukup dokumentasi kegiatan. Aku, Adi dan Cimot hanya terkekeh melihat kelakuan mereka.
 
Tak lama Pak Turimin, pemilik basecamp, mempersilakan Kami menyantap pecel kangkung dan mendoan hangat. Dia kemudian menyalakan radio FM/AM miliknya. Lamat-lamat terdengar suara penyiar berita Radio Republik Indonesia: PT SG akan membangun pabrik semen di pegunungan karst Kendeng Utara - Pati. Arggggh! [.]


Kontak
Erwin
By Request
Nusantara